AMBON, KOMPAS.com - Gempa berkekuatan 7,3 Skala Richter (SR) yang menguncang Maluku Sabtu malam, pukul 23:40 WIT, membuat cemas warga daerah ini yang berada di perantauan.
Mereka khawatir keselamatan sanak keluarganya, karena guncangan akibat gempa itu cukup hebat, bahkan melebihi apa terjadi di Sumatera Barat (Sumbar) pada 30 September lalu.
Yani Seipatiratuw, warga desa Sirisori Amalatu, Pulau Saparua Minggu (25/10), mengakui dirinya ditelpon saudara perempuannya di Sorong, yang takut akan keselamatan ayah mereka yang berusia lanjut.
"Kita merasakan guncangan hebat di sini (Sorong), sampai harus lari keluar rumah. Bagaimana kondisi di Ambon," ujar Yani menirukan ucapan saudaranya itu.
Hal senada disampaikan Raja (kepala desa) Passo, Kecamatan Baguala, Kota Ambon, Mathen Sarimanela, yang mengaku ditelpon sanak keluarganya yang tinggal di berbagai daerah luar Maluku.
"Mereka khawatir terjadi gelombang pasang (tsunami), apalagi letak Passo merupakan dataran rendah sehingga diperkirakan bisa mengalami kerusakan hebat sekiranya terjadi tsunami," ujarnya.
Warga asal Maluku di Belanda juga menelpon sanak keluarganya sejak Sabtu malam hingga Minggu siang. Mereka berulangkali menelepon untuk mengetahui kondisi terakhir setelah terjadi gempa.
"Saya sampai tidak bisa tidur karena family di Belanda terus menelepon untuk mencari tahu kondisi di Desa Suli, Pulau Ambon," kata Ny. Anna Talla.
Keresahan warga Maluku di luar provinsi ini cukup beralasan, apalagi pada Minggu terjadi dua gempa susulan, meskipun getarannya tidak dirasakan warga setempat.
Gempa susulan pertama berkekuatan 5,3 Skala Richter (SR) terjadi sekitar pukul 09.35 WIT, berpusat pada kedalaman 39 kilometer di 151 KM Barat Daya Tual, atau pada posisi 6,69 Lintang Selatan dan 131,97 Bujur Timur.
Gempa susulan kedua berkekuatan 5,3 SR terjadi sekitar pukul 14.00 WIT, berpusat di 228 kilometer Barat Laut Saumlaki, pada kedalaman 125 km. Pusat gempa tercatat pada 7,52 Lintang Selatan - 129,31 Bujur Timur.
"Syukurlah dua gempa susulan itu tidak menimbulkan getaran berarti, berbeda dari gempa pertama yang terjadi di Maluku Tenggara Barat (MTB) dan Maluku Barat Daya (MBD)," kata warga Tual, John Tamher.
Gempa berkekuatan 7,3 SR itu terjadi pada Sabtu malam sekitar pukul 23.49 WIT, berpusat di titik 209 km Barat Laut Saumllaki atay pada posisi 6.23 LS - 130.60 BT, dengan kedalaman 164 kilometer.
Gempa juga dirasakan warga kota Darwin, Northern Territory (NT), Australia, pada Minggu dini hari. Staf Konsulat RI Darwin, Abdul Hamid, mengatakan, ia dan banyak warga kota Darwin ikut merasakan getaran gempa di wilayah MTB dan MBD itu sekitar 15 detik, sekitar pukul 12.15 waktu Darwin.
"Di awali suara gemuruh dan kemudian diikuti dengan getaran sekitar 15 detik. Saya merasakannya di rumah sekitar pukul 12.15 waktu Darwin. Suara gemuruh yang diikuti dengan getaran itu sangat jelas," katanya dari Brisbane, Minggu pagi.
Seorang warga negara Indonesia yang sedang menginap di Hotel Value Inn di Jalan Mitchell 50, Darwin, bahkan mengatakan banyak tamu yang berhamburan keluar hotel sesaat setelah merasakan getaran gempa.
"Banyak tamu Hotel Value Inn Darwin keluar terlebih lagi mereka yang kamarnya berada di lantai paling atas. Getarannya, sangat terasa. Kondisi yang sama juga dirasakan seorang diplomat kita yang bertempat tinggal di apartemen," katanya.
Namun, dampak gempa MTB dan MBD yang dirasakan banyak warga kota Darwin, Australia Utara, itu tidak menimbulkan kerusakan rumah mapun gedung perkantoran,
Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maluku, Irwan Slamet, mengatakan gempa bumi berkekuatan 7,3 SR itu diduga kuat terjadi akibat adanya pertemuan empat lempengan bumi yang saling berhimpitan.
"Kami menduga gempa tersebut diduga akibat adanya satgaksen atau penajaman yang diakibatkan pergeseran lempeng Hindia atau Indoaustralia dengan lempengan Euroasia atau lempeng pasifik," katanya.
Kota Saumlaki yang terketak di Pulau Yamdena, Kabupeten Maluku Tenggara Barat (MTB) dan perairan laut Banda biasanya menjadi tempat pertemuan lempengan bumi yang saling menekan sehingga lokasi ini menjadi tempat yang paling aktif dilanda guncangan gempa tektonik.
Karena lempeng pasifik bergerak ke arah barat, lempeng Hindia bergerak ke arah utara, kemudian lempeng Asia ke arah selatan, terjadi pertemuan di kawasan laut Banda sampai ke perairan Maluku Tenggara.
"Untungnya daerah yang biasanya aktif dilanda gempa tektonik ini selalu terjadi di laut dalam dengan pusat gempa mencapai lebih dari 100 Km di bawah permukaan laut," katanya.
Sehingga tidak terlalu membahayakan penduduk di gugusan pulau-pulau Seram bagian selatan, Banda, Teon, Nila, Serua sampai ke gugusan pulau di kawasan Maluku Tenggara, Kepulauan Aru, MTB dan Maluku Barat Daya.
Sejak Agustus hingga pekan terakhir Oktober 2009 , kawasan MTB dan perairan laut Banda sudah diguncang gempa tektonik lebih dari lima kali dengan kekuatan bervariasi antara 5,1 SR sampai 7,3 SR.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang