Korut Tuding AS Siapkan Bom Bunker

Kompas.com - 27/10/2009, 13:57 WIB

SEOUL, KOMPAS.com-Korea Utara, Selasa (27/10), menuduh Amerika Serikat meningkatkan produksi bom bunker untuk menghancurkan nuklirnya.

Surat kabar partai komunis yang berkuasa, Rodong Sinmun, di dalam tajuknya, sebagaimana dikutip AFP melaporkan AS akan mengirim bom itu untuk menyerang target bawah tanah militer dan fasilitas nuklir di Korea Utara.

"Itu membuktikan bahwa Washington tidak melepaskan ambisinya untuk melumpuhkan Pyongyang dengan kekuatan," katanya.

Surat kabar pemerintah, Minju Joson, dalam tajuk yang sama mengatakan, AS memproduksi bom seperti itu untuk melakukan serangan terlebih dulu terhadap fasilitas bawah tanahnya. "Pilihan republik kami hanya bisa menunggu waktu manakala martabat dan keselamatannya di bawah ancaman, dengan memperkuat pertahanan perangnya dengan sekuat tenaga," ujarnya.

Militer AS menggunakan bom penghancur bunker dengan panduan sinar laser sejak Perang Teluk pada 1990-91, untuk menghancurkan pusat komando bawah tanah di Irak.

Kementerian Unifikasi Korea Selatan mengatakan dalam satu laporan pekan lalu bahwa Korea Utara memiliki 20 lokasi berkaitan dengan nuklir yang dikelola oleh sekitar 3.000 pekerja. Sebelas fasilitas itu berada di kompleks nuklir Yongbyon, di samping terdapat sembilan tambang dan fasilitas lain yang berkaitan dengan uranium.

Korea Utara menghentikan kegiatan Yongbyon pada tahun 2007 berdasarkan kesepakatan perlucutan nuklir enam negara. Pada April lalu, Korea Utara menyatakan keluar dari forum tersebut dan mengumumkan pihaknya sedang melanjutkan lagi pemrosesan kembali plutonium dari bahan bakar pada reaktor yang ada.

Pyongyang telah melakukan dua kali uji coba senjata atomnya pada Mei lalu, dan mengungkapkan plutonium yang dimiliki cukup untuk membuat enam sampai delapan senjata lagi. Korea Utara juga mengatakan bahwa pihaknya kini dalam tahapan akhir program eksperimen pengayaan uranium dalam level tinggi, satu cara lain untuk membuat bom atom.

Korea Utara telah menyampaikan kesediaan untuk kembali ke perundingan enam negara, namun hanya jika lebih dulu melakukan perundingan yang memuaskannya dengan Washington. Para utusan dari kedua pihak yang jarang sekali bertemu telah melakukan pertemuan tatap muka di New York Sabtu, dalam rangka persiapan kemungkinan digelarnya perundingan bilateral.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau