Pemadaman Listrik Sangat Mengganggu Rumah Sakit

Kompas.com - 27/10/2009, 15:18 WIB

BANDARLAMPUNG, KOMPAS.com - Pemadaman listrik yang terjadi nyaris setiap hari di Kota Bandarlampung mengganggu pelayanan terhadap pasien di sejumlah rumah sakit daerah itu.

"Pemadaman listrik menyebabkan kami tidak bisa mengoperasikan sejumlah alat di sejumlah ruangan, sementara listrik dari genset tidak banyak membantu," kata Kepala Bidang Pelayanan RSUDAM, Pad Dilangga, di Bandarlampung, Selasa (27/10).

Sejumlah ruangan yang terhenti aktivitasnya akibat pemadaman listrik, diantaranya ruang perinatologi, kamar operasi, ruang radiologi, laboratorium, ICU, dan ruang UGD.

Pemadaman listrik menyebabkan sejumlah alat medis pada ruangan tersebut tidak dapat dioperasikan, karena kapasitas listrik yang dihasilkan genset terlalu kecil, sebesar 330 kVA dari lima genset yang dimiliki RSUDAM, sementara kapasitas listrik yang dibutuhkan 690 kVA.

"Banyak alat potensial rusak, apabila tetap dioperasikan saat kami menggunakan genset, sementara pemadaman listrik oleh PLN bisa sampai enam jam," katanya.

Pad mencontohkan, alat CT-scan yang sangat sensitif terhadap arus listrik, dapat rusak apabila tegangan listrik tidak stabil dan kerap terjadi pemadaman.

Contoh lain, alat-alat pada ruang perinatologi, yang sangat tergantung pada pasokan energi listrik, yang terpaksa tidak dapat dioperasikan karena padamnya aliran listrik.

Meski demikian, dia mengaku belum menerima adanya laporan tentang kerusakan alat medis akibat aliran listrik yang tidak stabil tersebut.

"Belum ada laporan, namun kami prediksi akan banyak alat yang potensial rusak akibat ketidakstabilan itu, apabila pengoperasiannya tidak diperhatikan," katanya.

Pengelola RS swasta lain di Bandarlampung, seperti RS Imanuel dan RS Bumi Waras, juga mengeluhkan pemadaman listrik yang makin sering dengan waktu pemadaman bertambah lama.

Pemadaman itu mengakibatkan aktivitas rumah sakit terganggu, terutama pelayanan kepada para pasien.

Krisis listrik di provinsi Lampung saat ini telah mengakibatkan pemadaman bergilir di sejumlah titik di provinsi tersebut pada saat beban puncak dan siang hari.

Krisis listrik diperkirakan berlangsung hingga akhir Desember, akibat tidak beroperasinya salah satu mesin unit PLTU Tarahan, yang saat ini sedang dalam proses pemeliharaan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau