PADANG, KOMPAS.com — Terik siang menghujam kepala. Kendati demikian ratusan anak bertubuh mungil itu bergeming di tempatnya berdiri.
Anak-anak itu rela berdesakan demi melihat dari dekat sosok lelaki berkacamata yang tengah melangkah pelan ke dalam tenda yang semakin dikerumuni banyak orang.
Begitu si lelaki masuk ke dalam tenda, tak urung, anak-anak itu juga menyerbu ke dalamnya. Beralaskan terpal, anak-anak itu lalu duduk sekenanya, berebut untuk dekat dengan lelaki berkacamata tersebut.
"Tetap semangat ya, ayo kita bernyanyi sama-sama," ujar si lelaki.
Keringatnya tampak mengucur deras, mungkin karena panas dan sesaknya suasana di dalam tenda. Lagu "Gelang Sipatu Gelang" pun meluncur. Meski syair pada bait akhir lagu anak itu sengaja diubah, anak-anak tersebut tetap mengikuti.
Di antara suara tepuk, suara si lelaki terdengar memimpin lagu. Selanjutnya, walaupun terdengar tidak kompak membentuk sebuah kor, anak-anak itu terus mengikuti aba-abanya untuk melantunkan lagu.
"Gelang sipatu gelang/gelang si ramai-ramai/mari b'lajar/mari belajar/mari belajar,bersama-sama...."
Beban akademik
"Saat ini bukan saat yang tepat untuk membebani mereka dengan hal-hal akademik. Yang perlu kita lakukan adalah segala sesuatu yang riang dan menyenangkan karena yang terpenting adalah membuat mereka bisa kembali bergembira," ujar Seto Mulyadi, lelaki berkacamata tersebut, di halaman TK Cempaka Putih Nagari Sungai Asam, Padang Pariaman, Sumatera Barat, Senin (26/10).
TK Cempaka Putih Nagari sungai Asam adalah satu dari beberapa sekolah taman kanak-kanak dan sekolah dasar yang mendapatkan bantuan pendampingan dan penanganan trauma psikologis pascagempa Sumatera Barat dari enam pakar anak dan 50 relawan bantuan Frisian Flag Indonesia (FF) bekerjasama dengan Komisi Nasional Perlindungan Anak.
"Yang perlu kita sentuh dari mereka saat ini adalah hal-hal yang simbolik, baik dengan bernyanyi, mengarang, maupun menggambar agar segala isi hatinya keluar setelah sejak kejadian gempa itu tertahan oleh rasa takut, sedih, atau mungkin malu," kata Ketua Komnas Anak tersebut.
"Kami sudah meminta kepada Mendiknas untuk memberikan perhatian istimewa kepada mereka, yaitu bukan hanya menekankan pada aspek pendidikan kognitif dan afektif, melainkan juga psikomotoriknya, anak-anak ini tentu terganggu," tambahnya.
Untuk itu, enam pakar anak yang dibawanya dari Jakarta itu akan membina 50 orang relawan dari berbagai pelosok Sumatera Barat. Selama dua bulan, keenam orang relawan tersebut akan memberikan pelatihan secara intensif mengenai penanganan trauma psikologis.
"Sebaiknya penanganan semacam ini memang melibatkan relawan lokal, selain lebih efektif dan efisien untuk mempercepat pemulihan. Hasilnya bisa bermanfaat untuk kebutuhan jangka panjang karena, jika sewaktu-waktu dibutuhkan, maka mereka (relawan) sudah terlatih," ujar Seto.
Menurut Seto, diskusi dengan para pendidik pun menjadi agenda kegiatan penanganan trauma psikologis tersebut. Hal itu terutama mengenai beban akademik bagi para siswa.
"Mendiskusikan bagaimana caranya aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik itu bisa dipadukan dalam proses belajar-mengajar sehingga akhirnya anak-anak bisa kembali normal untuk dibebani dengan pelajaran-pelajaran yang semestinya mereka terima seperti sebelum terkena gempa," ujar Seto.
Lamban
Di satu sisi, pemulihan secara fisik pada kondisi infrastruktur pendidikan di kawasan terkena gempa di wilayah Padang Pariaman, Sumatera Barat, tersebut terkesan lamban. Jika terlalu berlarut, maka hal itu bukan tak mungkin akan menambah beban psikologis para siswa.
Sejauh ini, Kepala Dinas Pendidikan Padang Pariaman Syamsul Rizal mengatakan, sebanyak 526 kelas darurat tengah dibangun. Untuk sementara, para siswa menggunakan tenda darurat di halaman sekolah.
"Kira-kira semua akan rampung dalam waktu satu sampai dua tahun," ujar Syamsul, saat menghadiri penyerahan bantuan 23 tenda belajar dan 10 tenda bermain dari FFI di SDN 04 Ganting, Nagari Sungai Asam, Kecamatan 2 X 11 Enam Lingkung, Desa Sicincin, Padang Pariaman.
Untuk itulah, kata Syamsul, pihak Disdik Padang Pariaman telah menyampaikan permohonan bantuan kepada Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh.
"Belum ada respons dari Mendiknas, mungkin prosesnya ke pusat juga lama," ujarnya.
Syamsul menambahkan, sejauh ini proses belajar-mengajar memang sudah berjalan normal. Hanya, kuantitas dan kualitas proses tersebut belum berlangsung "normal" seperti sedia kala, jauh sebelum terkena gempa.
Akselerasi
Sambil menunggu selesainya pembangunan 526 sekolah darurat tersebut, memberikan bantuan tenda atau peralatan belajar saja tentu tidak cukup. Harus ada akselerasi penanganan bantuan yang diberikan bagi anak-anak korban gempa.
Hal tersebut juga diungkapkan oleh Human Resources and Corporate Affairs Director Frisian Flag Indonesia (FFI) Hendro H Poedjono seusai penyerahan bantuan secara simbolis 23 tenda belajar, 10 tenda bermain, 20 paket peralatan sekolah untuk guru, dan 2.000 peralatan belajar siswa dari FFI kepada 10 SD di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Senin (26/10).
"Dalam hal ini, pembangunan fisik dan nonfisik (psikologis) harus sejalan. Jika tenda belajar sudah berdiri, maka penanganan trauma juga harus segera dilakukan. Pengawasan dan evalusi terhadap kedua bantuan itu juga perlu agar tahu kelebihan dan kekurangannya untuk bekal di masa depan," ujar Hendro, yang mengaku mengambil pelajaran dari bencana gempa di Yogyakarta pada 2006.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang