Taliban Ganti Taktik

Kompas.com - 28/10/2009, 06:37 WIB
 
 

ISLAMABAD, KOMPAS.com - Ibu kota Pakistan, Islamabad, kembali dikejutkan oleh upaya pembunuhan seorang perwira tinggi oleh orang-orang bersenjata, Selasa (27/10). Pemilihan target ini mengindikasikan kelompok Taliban mengubah strategi pembalasan dengan taktik pembunuhan.

Ini merupakan serangan kedua atas pejabat militer senior Pakistan. Pada Kamis pekan lalu, seorang brigadir juga menjadi sasaran orang-orang bersenjata saat berkendara. Dia dan sopirnya tewas dalam serangan tersebut.

Sebelumnya, serangkaian serangan menggunakan bom bunuh diri mengguncang beberapa kota di Pakistan dengan sasaran institusi militer, kepolisian, dan pendidikan. Serangan-serangan itu dimaksudkan sebagai balasan atas operasi militer Pakistan melawan Taliban di Waziristan Selatan yang dilancarkan mulai 17 Oktober.

Kemarin, Brigadir Waqar Ahmed bersama ibunya sedang mengendarai mobil menuju rumah sakit saat mobil mereka dihujani peluru. Keduanya selamat dari serangan tersebut.

”Brigadir Waqar Ahmed, yang bertugas di markas besar, ditemani ibunya sedang menuju rumah sakit setempat saat teroris melepaskan tembakan kepadanya. Beruntung keduanya selamat,” kata polisi Khurshid Khan.

Otoritas mengatakan, ada dua orang bersenjata yang terlibat penyerangan. Namun, seorang saksi mata, Muhammad Imran, mengatakan, hanya seorang pemuda bersenjata yang menembaki kendaraan milik Brigadir Ahmed.

Kepada kantor berita Associated Press, Imran menuturkan, dia tengah berada di teras rumahnya saat melihat seorang pemuda memberondongkan peluru dari sebuah senjata yang disembunyikan di bawah bajunya saat kendaraan melambat. ”Dia menembak tak henti-hentinya. Dia menarget kursi depan mobil,” katanya.

Seorang pemuda lain muncul naik sepeda motor tak lama kemudian dan keduanya melarikan diri, ujar Imran. Dia juga melihat polisi memungut 15-20 selongsong peluru dari lokasi penembakan.

Seorang pejabat senior kepolisian Islamabad, Bin Yamin, mengatakan, Brigadir Ahmed memakai pakaian sipil, tetapi mengemudikan kendaraan dinas. Mobil itu memiliki pelat nomor resmi dengan lencana militer.

”Ini tampaknya serangan yang sudah ditetapkan targetnya, tetapi kami tengah menyelidiki lebih jauh,” katanya.

Meningkatnya serangan di Islamabad telah memunculkan ketegangan di kota tersebut karena membuktikan kemampuan Taliban menjangkau seantero Pakistan. Serangan-serangan itu telah menewaskan lebih dari 200 orang dalam beberapa pekan terakhir.

Tiga front

Di Waziristan Selatan, pernyataan militer menyebutkan bahwa tentara sudah merangsek maju di tiga front di kawasan itu. Pasukan militer mendapat perlawanan sengit di ketiga front. Dalam 24 jam terakhir, sudah 19 anggota Taliban dan enam tentara tewas membuat jumlah total korban tewas sebanyak 239 anggota Taliban dan 33 tentara.

Pasukan militer pada hari Selasa menewaskan enam anggota Taliban dalam pertempuran di Mohmand, sebuah wilayah suku di timur laut Waziristan. Di Bajaur, tetangga Mohmand, anggota Taliban menembak mati kepala milisi suku yang propemerintah.

Seorang pejabat pemerintah di kota Tank, pintu gerbang ke Waziristan Selatan, mengatakan, anggota Taliban mulai melarikan diri ke wilayah-wilayah tetangganya. ”Saya melihat anggota Taliban Pakistan dan Uzbekistan di Mir Ali, begitu juga di wilayah saya,” kata Majeed Mehsud, pejabat itu kepada kantor berita Reuters.

Lebih dari 125.000 orang telah terdaftar sebagai pengungsi di Dera Ismail Khan dan Tank, distrik tetangga Waziristan Selatan, sejak 13 Oktober. ”Mereka bergabung dengan 80.500 orang yang telah didaftar sebelumnya,” kata juru bicara Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) di Pakistan, Arianne Rummery.

Dia mengatakan, jumlah itu mungkin turun setelah verifikasi selesai. ”Situasi keamanan yang kacau menghambat gerak kami,” kata Rummery. (ap/afp/reuters/fro)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau