Awas, Ayam Tiren Beredar di Jakarta Pusat

Kompas.com - 28/10/2009, 17:51 WIB

JAKARTA, KOMPAS.comWarga yang gemar mengonsumsi daging ayam diingatkan agar berhati-hati saat memilih daging unggas yang akan dibeli pada pedagang di pasar-pasar di Jakart a Pusat (Jakpus). Diperkirakan daging ayam bangkai atau ayam mati kemaren (tiren ) hingga kini masih diperjual belikan secara bebas di pasaran, karena razia yang dilakukan aparat Suku Dinas (Sudin) Pertanian dan peternakan hanya 10 kali dalam sebulan.  

"Kami memang melakukan razia hanya sepuluh kali dalam satu bulan akibat berbagai keterbatasan, padahal tiap hari pasokan ayam dari berbagai daerah masuk ke penampungan. Tidak menutup kemungkinan saat tak ada razia ayam bangkai lolos ke pasaran," papar Kepala Seksi Pengawasan dan pengendalian Sudin Pertanian dan peternakan Jakpus, Djaelani, Rabu (28/10) seperti dikutip Humas Pemko Jakarta Pusat.

Di Jakpus terdapat 17 lokasi penampungan yang berada di wilayah Kecamatan Johar Baru dan Kecamatan Cempaka Putih.Tiap lokasi penampungan mendapatkan pasokan sekitar 1.000 hingga 1.500 ekor ayam per hari . Dari tiap kali pengiriman ini terdapat sekitar 100 hingga 150 ekor yang mati, diprediksi saat petugas tak melakukan razia ayam-ayam tiren itu diambil pedagang eceran nakal dan dijual di pasaran.

Menurut Djaelani, selama bulan September 2009 lalu saja pihaknya dalam 10 kali razia berhasil menyita 1.318 ekor ayam tiren dari 17 lokasi penampungan dan dimusnahkan dengan cara dibakar, pada Oktober ini hingga ming gu ketiga telah berhasil menjaring dan memusnahkan 700 ekor ayam tiren. Razia ini dilakukan pada pagi hari atau sore tergantung masuknya kiriman ayam dari peternakan di daerah ke penampungan.

Kata Djaelani, sebenarnya untuk mengetahui ayam itu berkual itas baik atau ayam tiren dapat dilihat dari warga daging unggas tersebut. Ciri-ciri ayam tiren pada bagian leher dan paha terdapat bercak merah atau berwarna kebiru-biruan dan baunya anyir. Selain ayam tiren juga ada daging ayam berkualitas buruk lain se perti ayam disuntik air agar terlihat gemuk dagingnya, juga ayam berformalin.

Harga daging ayam di pasar-pasar sejak Lebaran kemarin hingga kini yang masih relative tinggi, dapat mendorong pedagang eceran nakal mencampur daging ayam berkualitas baik de ngan ayam tiren atau yang disuntik air. Di pasapasar tradisional seperti pasar Senen, harga ayam potong masih berkisar Rp 23.000 sampai Rp 25.000 per kilogram , padahal sebelum bulan Puasa harga per kilogram hanya berkisar Rp 18.000 hingga Ro 20.000.  

Dikatakan, biasanya daging ayam berkualitas kurang baik dijual oknum pedagang eceran nakal dan dibeli para pedagang daging ayam olahan yang juga nakal. Jika telah dimasak apalagi diberi bumbu, rasa daging ayam olahan ini akan sulit dibedakan kecuali melalui pengetesan labo ratorium. Kalau sudah dimasak dan diberi bumbu sedemikian rupa kita tidak bisa membedakan rasanya, ujar Djaelani.  

Menghadapi Hari Raya Idul Adha, kata Daelani, pihaknya mulai H-10 juga akan melakukan pengawasan terhadap hew an qurban yang dijajakan para pedagang musiman. Hal ini untuk mencegah masuknya hewan berpenyakit anthrax dari Daerah rawan seperti Bogor. Kendati demikian menurutnya, hingga kini belum ada informasi dari Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi tentang ad anya penyakit hewan itu.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau