JAKARTA, KOMPAS.com - Krisis keuangan dan inflasi yang terjadi tahun ini menyebabkan belanja ritel di Indonesia menurun drastis. Pertumbuhan belanja masyarakat pada 2009 ini dipastikan tidak mencapai dua digit seperti tahun lalu.
Lembaga survei Nielsen memastikan pertumbuhan belanja ritel hanya 6 persen. Hingga triwulan ketiga 2009, tercatat hanya 5,9 persen. "Pendongkrak pertumbuhan ritel adalah Lebaran yang tertinggi, dengan demikian sekarang sudah sulit untuk dinaikkan, padahal tahun lalu mencapai 21 persen," kata Direktur Nielsen, Yongky Susilo di Jakarta, Rabu (28/10).
Menurutnya, ada dua hambatan yang cukup signifikan yang disebabkan oleh krisis keuangan dunia yaitu terjadinya inflasi hingga 9 persen yang
menyebabkan daya beli masyarakat menurun dan ekspansi perusahaan ritel yang mandek. "Pembangunan hipermarket dan toko-toko modern mengalami kemacetan akibat kesulitan keuangan," tandasnya.
Walaupun sebenarnya krisis sudah semakin membaik, jelasnya, tetapi masyarakat lebih suka menabung dari pada membelanjakan pendapatannya
sehingga tingkat belanjanya pun tidak besar. Dia memberikan contoh, pertumbuhan belanja ritel pada saat Lebaran 2009 ini hanya sebesar 7,8 persen, padahal saat Lebaran 2008 peningkatannya mencapai 30 persen.