Ritel Turun Drastis, Hanya Tumbuh 6 Persen

Kompas.com - 28/10/2009, 18:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Krisis keuangan dan inflasi yang terjadi tahun ini menyebabkan belanja ritel di Indonesia menurun drastis. Pertumbuhan belanja masyarakat pada 2009 ini dipastikan tidak mencapai dua digit seperti tahun lalu.

Lembaga survei Nielsen memastikan pertumbuhan belanja ritel hanya 6 persen. Hingga triwulan ketiga 2009, tercatat hanya 5,9 persen. "Pendongkrak pertumbuhan ritel adalah Lebaran yang tertinggi, dengan demikian sekarang sudah sulit untuk dinaikkan, padahal tahun lalu mencapai 21 persen," kata Direktur Nielsen, Yongky Susilo di Jakarta, Rabu (28/10).

Menurutnya, ada dua hambatan yang cukup signifikan yang disebabkan oleh krisis keuangan dunia yaitu terjadinya inflasi hingga 9 persen yang
menyebabkan daya beli masyarakat menurun dan ekspansi perusahaan ritel yang mandek. "Pembangunan hipermarket dan toko-toko modern mengalami kemacetan akibat kesulitan keuangan," tandasnya.

Walaupun sebenarnya krisis sudah semakin membaik, jelasnya, tetapi masyarakat lebih suka menabung dari pada membelanjakan pendapatannya
sehingga tingkat belanjanya pun tidak besar. Dia memberikan contoh, pertumbuhan belanja ritel pada saat Lebaran 2009 ini hanya sebesar 7,8 persen, padahal saat Lebaran 2008 peningkatannya mencapai 30 persen.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau