Darmin: Pelemahan Rupiah Tidak Permanen

Kompas.com - 28/10/2009, 20:14 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution menegaskan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang terjadi dalam sepekan terakhir ini hanya bersifat sementara. "Ini bukan kecenderungan yang permanen. Situasinya memang masih agak berubah-ubah naik turun," kata Darmin, saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, di Jakarta, Rabu (28/10).

Dia mengakui, melemahnya nilai tukar rupiah ini dipengaruhi oleh pergerakan perubahan nilai mata uang secara regional. Di satu sisi, ada juga aksi ambil untung (profit taking) di lantai bursa sehingga memengaruhi nilai tukar rupiah. "Jadi ini bukan arah yang stabil," ujarnya.

Pada perdagangan Rabu, rupiah ditutup merosot hingga Rp 9.690 per dollar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya yang mencapai Rp 9.585 per dollar AS. Dia menegaskan, pihaknya akan terus melakukan upaya untuk menjaga volatilitas nilai tukar rupiah agar pergerakannya tidak terlalu jauh. "Tetapi memang ada turun naiknya. BI tidak pernah diam begitu saja," ujarnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, pergerakan nilai tukar rupiah masih dalam bayang-bayang dollar AS kendati muncul wacana diversifikasi mata uang. "Bahwa kita harus terus melihat faktor perekonomian AS, melihat pengaruhnya ke seluruh dunia," ujar Menkeu, di tempat yang sama.

Dia menjelaskan, kendati banyak pihak yang menyatakan akan menggunakan mata uang lain dalam transaksi perdagangan dunia, tetapi hal tersebut belum berpengaruh secara signifikan. "Banyak yang mengatakan akan melakukan diversifikasi dalam currency, tapi dominasi currency AS itu masih di atas 70 persen dari total penggunaan currency dunia," jelasnya.

Lebih lanjut Menkeu mengatakan, berbagai tindakan pemerintah AS terkait kebijakan fiskal seperti pengumuman Bank Sentral AS terkait suku bunga akan memberi dampak pada pergerakan nilai tukar rupiah. "Apakah mau menaikkan suku bunga dalam mengantisipiasi defisit dari APBN-nya yang meningkat. Itu semuanya pasti akan mempengaruhi persepsi dan proyeksi terhadap mata uang dolar," ujarnya.

Kendati demikian, Menkeu tetap optimistis bahwa nilai tukar rupiah akan mengalami penguatan. "Pasalnya bila The Fed positif menaikkan suku bunga acuan maka akan berdampak positif bagi rupiah karena nilai tukar dollar AS akan melemah terhadap mata uang dunia lainnya. Termasuk kita," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau