JAKARTA, KOMPAS.com — Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution menegaskan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang terjadi dalam sepekan terakhir ini hanya bersifat sementara. "Ini bukan kecenderungan yang permanen. Situasinya memang masih agak berubah-ubah naik turun," kata Darmin, saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, di Jakarta, Rabu (28/10).
Dia mengakui, melemahnya nilai tukar rupiah ini dipengaruhi oleh pergerakan perubahan nilai mata uang secara regional. Di satu sisi, ada juga aksi ambil untung (profit taking) di lantai bursa sehingga memengaruhi nilai tukar rupiah. "Jadi ini bukan arah yang stabil," ujarnya.
Pada perdagangan Rabu, rupiah ditutup merosot hingga Rp 9.690 per dollar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya yang mencapai Rp 9.585 per dollar AS. Dia menegaskan, pihaknya akan terus melakukan upaya untuk menjaga volatilitas nilai tukar rupiah agar pergerakannya tidak terlalu jauh. "Tetapi memang ada turun naiknya. BI tidak pernah diam begitu saja," ujarnya.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, pergerakan nilai tukar rupiah masih dalam bayang-bayang dollar AS kendati muncul wacana diversifikasi mata uang. "Bahwa kita harus terus melihat faktor perekonomian AS, melihat pengaruhnya ke seluruh dunia," ujar Menkeu, di tempat yang sama.
Dia menjelaskan, kendati banyak pihak yang menyatakan akan menggunakan mata uang lain dalam transaksi perdagangan dunia, tetapi hal tersebut belum berpengaruh secara signifikan. "Banyak yang mengatakan akan melakukan diversifikasi dalam currency, tapi dominasi currency AS itu masih di atas 70 persen dari total penggunaan currency dunia," jelasnya.
Lebih lanjut Menkeu mengatakan, berbagai tindakan pemerintah AS terkait kebijakan fiskal seperti pengumuman Bank Sentral AS terkait suku bunga akan memberi dampak pada pergerakan nilai tukar rupiah. "Apakah mau menaikkan suku bunga dalam mengantisipiasi defisit dari APBN-nya yang meningkat. Itu semuanya pasti akan mempengaruhi persepsi dan proyeksi terhadap mata uang dolar," ujarnya.
Kendati demikian, Menkeu tetap optimistis bahwa nilai tukar rupiah akan mengalami penguatan. "Pasalnya bila The Fed positif menaikkan suku bunga acuan maka akan berdampak positif bagi rupiah karena nilai tukar dollar AS akan melemah terhadap mata uang dunia lainnya. Termasuk kita," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang