Deplu Indonesia Sangkal Menerima, Australia Akui Bantu Finansial

Kompas.com - 30/10/2009, 05:21 WIB
SYDNEY, KOMPAS.com - Pemerintah Australia blakblakan menceritakan upaya penyelamatan 78 pencari suaka Sri Lanka yang kini berada di kapal Ocean Viking di Tanjung Pinang. Bahkan, Australia mengaku telah memberikan bantuan keuangan kepada Indonesia untuk mengatasi masalah itu.

Penjelasan tentang adanya bantuan finansial itu disampaikan Menteri Luar Negeri Australia Stephen Smith, Kamis (29/10) di Australia. Smith juga mengisyaratkan akan melakukan tindakan yang keras terhadap para pengungsi Sri Lanka itu.

Menurut Smith, para pencari suaka itu sebenarnya tidak tahu akan ke mana tujuannya. Dengan tetap di dalam kapal Ocean Viking—kapal patroli bea dan cukai dan perikanan Australia—dan menolak turun di Indonesia, tidak tertutup kemungkinan mereka akan ditindak tegas.

Ia menjelaskan, para pencari suaka itu akan diproses di Indonesia di bawah satu perjanjian baru antarkedua negara. Publik diminta bersabar sekalipun kaum imigran gelap itu sudah 11 hari mengapung di Indonesia dan naik kapal berbendera Australia.

Ke-78 warga Sri Lanka itu ditangkap patroli Angkatan Laut Australia yang menggunakan kapal HMS Armidale, 18 Oktober lalu. Setelah penangkapan itu para imigran dipindahkan ke kapal Ocean Viking saat berada di sekitar 240 mil sebelah barat Padang. Namun, tak diungkap apakah posisi penangkapan itu termasuk di Indonesia atau bukan.

Menurut Smith, kelompok pencari suaka itu dipindahkan ke kapal Ocean Viking setelah mengalami kesulitan di perairan internasional di mana Indonesia memiliki kewajiban melakukan penyelamatan. Pencari suaka itu menggunakan perahu, keluar dari negaranya yang sedang dilanda perang, sengaja menyabotase untuk mencari penyelamatan.

Australia mengakui telah menyerahkan bantuan finansial ke Indonesia pascamunculnya kasus pencari suaka ini. Australia sebelumnya sering menangkap serta menahan kapal-kapal imigran dan masalah ini telah menjadi subyek perdebatan sengit dalam negeri. Perdana Menteri Kevin Rudd menyebut upaya penyelamatan pencari suaka sebagai ”penyelesaian gaya Indonesia” (Indonesia solution).

Juru Bicara Departemen Luar Negeri RI Teuku Faizahsyah menyangkal Indonesia menerima suap atau bantuan keuangan dari Australia menyangkut manusia- manusia kapal ini. Dia mengakui memang ada proposal dari Australia yang ingin memberi kontribusi finansial bagi Indonesia untuk mengatasi problem itu, tetapi Indonesia belum menanggapi. Australia, menurut Jubir Deplu RI, baru akan mengirimkan timnya ke Jakarta untuk membahas masalah pencari suaka Sri Lanka pekan depan. (AFP/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau