Bahaya Laten Tawuran

Kompas.com - 30/10/2009, 06:51 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Tawuran begitu biasa terjadi di Jakarta, bahkan sewaktu-waktu dapat muncul tanpa sebab yang jelas. Pihak yang terlibat tawuran pun tak terbatas, mulai dari masyarakat di perkampungan hingga mahasiswa. Kesenjangan sosial dan salah pendidikan dituding sebagai pemicu.

Kepala Satuan Kejahatan dengan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Nico Afinta, Kamis (29/10), mengatakan, tawuran antarkelompok yang terjadi di Jakarta umumnya berlatar belakang egoisme kelompok. Kesimpulan ini diperoleh dari hasil analisis kasus-kasus tawuran dan kerusuhan yang terjadi di wilayah hukum Polda Metro Jaya, termasuk Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi.

Pada saat-saat tertentu, seperti bulan puasa, Polda Metro Jaya selalu mewaspadai sedikitnya 12 kawasan rawan tawuran. Kedua belas kawasan tersebut adalah Pulogebang, Jalan Kramat Raya, Jalan Lenteng Agung, Kemayoran, Stasiun Klender, Cakung, Sawah Lio, Pasar Minggu, Jalan MT Haryono, Warung Buncit, Pulo Jahe, dan Tanah Abang.

Pemerintah Provinsi DKI dan Gerakan Nasional Peduli Antinarkoba, Tawuran, dan Anarkis memetakan ada 137 sekolah, termasuk perguruan tinggi, yang juga rawan tawuran.

Menurut Nico, egoisme kelompok, baik di tingkat kampung, wilayah tertentu, maupun lingkungan sekolah, tumbuh sebagai bagian dari pencarian identitas diri. Dalam kelompok inilah anggotanya kemudian merasa memiliki harga diri, rasa aman, martabat, atau hal-hal serupa lainnya. Emosi dan ikatan-ikatan primordial antaranggota mengalahkan logika.

”Kasus-kasus tawuran yang berulang kali terjadi di tempat yang sama, seperti di Salemba dan Manggarai, Jakarta Pusat, atau di Matraman, Jakarta Timur, memiliki latar belakang persoalan seperti yang saya jelaskan tadi. Tawuran umumnya bermotif sosial dan tidak bermotif ekonomi,” papar Nico.

Pakar pendidikan, Arief Rachman, menambahkan, sistem pendidikan yang keliru memang memperparah kondisi. Saat ini rata-rata institusi pendidikan juga kurang menerapkan program pembinaan untuk membentuk manusia terpelajar atau intelektual. Sekolah tidak bisa membentuk intelektual rendah hati dan cerdas serta berkemampuan menyelesaikan masalah dengan dialog dan logika.

Arief beberapa kali menyatakan, memang harus ada reformasi pendidikan. Dengan kurikulum yang tepat, siswa diharap dapat menjadi orang berpendidikan sekaligus berketerampilan khusus sehingga bisa bersaing sehat di tengah kehidupan keras Ibu Kota.

Selain itu, Nico mengatakan, ada beberapa solusi cepat. Pertama, merangkul para pemuka masing-masing kelompok dan mencari dukungan birokrasi. Kedua, memformulasikan penyelesaian dengan berdialog rutin serta mewadahi mereka dalam berbagai kegiatan bersama. Kegiatan yang dimaksud harus disesuaikan dengan ketertarikan sesuai usia, seperti olahraga, musik, atau kursus keterampilan tertentu. (WIN/NEL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau