Kepala Satuan Kejahatan dengan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Nico Afinta, Kamis (29/10), mengatakan, tawuran antarkelompok yang terjadi di Jakarta umumnya berlatar belakang egoisme kelompok. Kesimpulan ini diperoleh dari hasil analisis kasus-kasus tawuran dan kerusuhan yang terjadi di wilayah hukum Polda Metro Jaya, termasuk Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi.
Pada saat-saat tertentu, seperti bulan puasa, Polda Metro Jaya selalu mewaspadai sedikitnya 12 kawasan rawan tawuran. Kedua belas kawasan tersebut adalah Pulogebang, Jalan Kramat Raya, Jalan Lenteng Agung, Kemayoran, Stasiun Klender, Cakung, Sawah Lio, Pasar Minggu, Jalan MT Haryono, Warung Buncit, Pulo Jahe, dan Tanah Abang.
Pemerintah Provinsi DKI dan Gerakan Nasional Peduli Antinarkoba, Tawuran, dan Anarkis memetakan ada 137 sekolah, termasuk perguruan tinggi, yang juga rawan tawuran.
Menurut Nico, egoisme kelompok, baik di tingkat kampung, wilayah tertentu, maupun lingkungan sekolah, tumbuh sebagai bagian dari pencarian identitas diri. Dalam kelompok inilah anggotanya kemudian merasa memiliki harga diri, rasa aman, martabat, atau hal-hal serupa lainnya. Emosi dan ikatan-ikatan primordial antaranggota mengalahkan logika.
”Kasus-kasus tawuran yang berulang kali terjadi di tempat yang sama, seperti di Salemba dan Manggarai, Jakarta Pusat, atau di Matraman, Jakarta Timur, memiliki latar belakang persoalan seperti yang saya jelaskan tadi. Tawuran umumnya bermotif sosial dan tidak bermotif ekonomi,” papar Nico.
Pakar pendidikan, Arief Rachman, menambahkan, sistem pendidikan yang keliru memang memperparah kondisi. Saat ini rata-rata institusi pendidikan juga kurang menerapkan program pembinaan untuk membentuk manusia terpelajar atau intelektual. Sekolah tidak bisa membentuk intelektual rendah hati dan cerdas serta berkemampuan menyelesaikan masalah dengan dialog dan logika.
Arief beberapa kali menyatakan, memang harus ada reformasi pendidikan. Dengan kurikulum yang tepat, siswa diharap dapat menjadi orang berpendidikan sekaligus berketerampilan khusus sehingga bisa bersaing sehat di tengah kehidupan keras Ibu Kota.
Selain itu, Nico mengatakan, ada beberapa solusi cepat. Pertama, merangkul para pemuka masing-masing kelompok dan mencari dukungan birokrasi. Kedua, memformulasikan penyelesaian dengan berdialog rutin serta mewadahi mereka dalam berbagai kegiatan bersama. Kegiatan yang dimaksud harus disesuaikan dengan ketertarikan sesuai usia, seperti olahraga, musik, atau kursus keterampilan tertentu.