Orang Rantai dan Lubang Mbah Suro dari Tambang Sawahlunto

Kompas.com - 30/10/2009, 11:10 WIB

MEMASUKI kota Sawahlunto, dari kota Padang, Anda akan melihat kota mungil ini dikelilingi bukit. Setelah melalui jalanan menanjak kemudian jalanan turun, maka tampaklah Kota Tambang itu di bawah. Kota seluas sekitar 274 km2 ini dihuni sekitar 53 ribu penduduk. Kota ini pernah ditinggalkan penduduk, yang kebanyakan penambang, kala persediaan batubara di kota ini menipis. Itu terjadi di awal tahun 2000. Kini kota ini mulai menggeliat setelah Wali Kota Amran Nur berkomitmen merevitalisasi kota lama Sawahlunto seluas sekitar 6 km2 beserta bangunan tua dan peninggalan atau pusaka dari zaman kolonial.
    
Salah satu peninggalan Belanda yang sekitar dua tahun lalu ditemukan dan langsung dibenahi demi meningkatkan wisata bekas kota tambang ini tak lain adalah Lubang Mbah Soero atau Lubang Mbah Suro. Tempat ini, sesuai namanya, tak lain adalah lubang bekas tambang batubara. Lubang ini merupakan lubang utama bekas tambang batubara yang ada di Tangsi Baru Kelurahan Tanah Lapang, Kecamatan Lembah Segar.

Meski hanya berupa lubang bekas tambang batubara, namun tempat itu punya kisah panjang dan menarik. Dari sinilah kemudian lahir nama “Orang Rantai”. Orang rantai tak lain adalah sebutan bagi pekerja tambang, yang tak lain adalah pesakitan di zaman Belanda, yang dikirim dari berbagai daerah di Hindia Belanda termasuk Batavia. Para buruh itu dirantai sambil dipaksa menambang batubara demi kepentingan Belanda.

Adalah de Groet, ahli geologi Belanda, yang pada 1858 menemukan bahwa di sekitar Sungai Ombilin memiliki kandungan batubara. Penemuan De Groet kemudian ditindaklanjuti oleh Ir Willem Hendrik De Greve pada 1867. Penyelidikan yang lebih saksama oleh Ir Verbeck menghasilkan temuan kandungan batubara dengan kisaran mencapai puluhan juta, sehinga dimulailah penambangan di wilayah tersebut. Produksi pertambangan batubara dari Ombilin dimulai tahun 1892.

Lubang Suro disebut-sebut mirip dengan Goa Jepang di Bukittinggi, tampaknya tidak tepat. Sebab Lubang Suro dibangun jauh lebih awal oleh Belanda sementara Goa Jepang dibangun oleh Jepang di sekitar tahun 1930-an. Lubang Suro juga lebih unik karena berada di bawah kota Sawahlunto dan mengular hingga sekitar 1,5 km.

Mbah Suro dikenal sebagai mandor orang rantai dan masyarakat, beliau juga dikenal memiliki ilmu kebathinan yang tinggi. Ia jadi panutan warga. Mbah Suro ini memiliki lima anak dengan 13 cucu. Istrinya adalah seorang dukun beranak. Mbah Suro meninggal sebelum tahun 1930 dan dimakamkan di pemakaman orang rantai, Tanjung Sari, Kota Sawahlunto.

Lebar lubang tambang ini sekitar dua meter dengan ketinggian dua  meter. Lubang dengan kedalaman 15 meter dari permukaan tanah ini sudah dipugar sejauh 186 meter. Masih ada lubang lain yang berada lebih di bawah lubang pertama, namun belum tersentuh pemugaran. Di lubang pertama yang sudah dipugar, proses pembersihan lumpur dan pemompaan air dari lubang ini dilakukan sekitar 20 hari.

Amran Nur langsung menyediakan anggaran untuk membuat aliran air dan saluran udara agar pengunjung tak sesak di dalam lubang tersebut. Lampu penerang juga dipasang agar lubang tidak terlalu gelap. Di dinding tersebut masih bias dilihat bahkan dipegang batubara kualitas super. Selama pemugaran, ditemukan banyak kerangka manusia, termasuk paha manusia, dan peninggalan Belanda berupa minuman beralkohol. Tak aneh jika untuk masuk ke dalam lubang, ada beberapa peringatan yang harus dipatuhi pengunjung. Selain harus menggunakan topi pengaman, karena air masih menetes dari dinding lubang, pengunjung juga harus menggunakan sepatu bots karena lantai lubang basah dan penuh air. Pengunjung juga diwanti-wanti agar tak bicara kotor dan bagi perempuan, tak boleh sedang datang bulan.

Tiket masuk seharga Rp 7.500 pengunjung bisa menapaktilas di bekas tambang batubara selama sekitar 25 menit. Saat keluar dari lubang, kita akan muncul di seberang jalan.

Sebuah upaya yang nyata dengan komitmen tinggi ditunjukkan Amran Nur. Meski baru tahun 2007 ditemukan, Lubang Suro sudah bisa beroperasi sebagai atraksi wisata tambang sejak tahun lalu dan dua tahun kemudian Lubang Suro semakin banyak diminati wisatawan dari luar Sawahlunto, bahkan dari luar Sumatera.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau