Zelaya Kembali Kuasai Honduras

Kompas.com - 30/10/2009, 14:22 WIB

TEGUCIGALPA, KOMPAS.com — Pemerintah defacto Honduras akhirnya tunduk pada tekanan internasional dan setuju mengizinkan Presiden Manuel Zelaya kembali berkuasa, sosok yang digulingkan dalam kudeta militer empat bulan lalu. Terobosan itu tercapai setelah muncul desakan dari para pejabat senior Amerika Serikat yang mengunjungi Honduras pekan ini untuk mengakhiri krisis yang mengganggu kebijakan luar negeri AS tersebut.

"Ini adalah kemenangan demokrasi Honduras," kata Zelaya setelah pihak seterunya menyetujui satu perjanjian yang akan memulihkan kembali kekuasaannya dalam beberapa hari ke depan.

Zelaya disingkirkan dan diasingkan ke luar negeri pada 28 Juni. Namun secara diam-diam, ia pulang ke Honduras bulan lalu dan sejak itu berlindung di Kedutaan Besar Brasil.

Pemimpin defacto Roberto Micheletti, yang mengambil alih pemerintahan negara itu dalam beberapa jam setelah Zelaya digulingkan, sebelumnya menolak menyetujui kepulangannya, meski akhirnya ia berubah. "Saya mengizinkan tim perunding saya menandatangani satu perjanjian yang menandakan awal diakhirinya situasi politik negara ini," kata Micheletti dalam satu jumpa pers Kamis malam.    
   
Amerika Serikat, Uni Eropa, dan para pemimpin Amerika Latin telah mendesak agar Zelaya diizinkan menyelesaikan masa jabatan presidennya hingga Januari tahun depan. Mereka menyatakan tidak akan mengakui pemenang pemilu pada November nanti, kecuali demokrasi terlebih dulu dipulihkan.
       
Zelaya sebelumnya dikecam banyak pihak di Honduras karena menjadi sekutu Presiden Venezuela Hugo Chavez. Para pengritik juga menuduh bahwa ia berusaha mencari dukungan untuk memperpanjang masa jabatannya yang terbatas, meski telah membantah tuduhan itu.
      
Kelompok-kelompok hak asasi manusia mencatat adanya pelanggaran penting oleh pemerintah defacto. Mereka mengatakan, pemilu yang bebas dan jujur tidak akan mungkin dilaksanakan setelah Micheletti mengekang kebebasan sipil dan menutup sementara organisasi-organisasi media pro Zelaya.
       
Presiden AS Barack Obama pun menghentikan sejumlah bantuan untuk Honduras setelah kudeta itu. Namun, keputusan itu dikecam oleh sejumlah negara Amerika Latin karena tidak banyak bepengaruh untuk memaksa pemerintah defacto mengalah. Ambruknya sejumlah perundingan pekan lalu juga mendorong Menlu AS Hillary Cliton mengirim satu delegasi AS untuk mendesak agar penyelesaian damai atas konflik tersebut dilakukan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau