KAIRO, KOMPAS.com — Mesir melaporkan kematian keempat penderita flu A-H1N1 atau flu babi, media massa setempat mengatakan, Jumat (30/10). Seorang perempuan berusia 36 tahun dari provinsi Ismailiyah meninggal akibat virus A-H1N1 pada Kamis (29/10) malam, kata juru bicara Kementerian Kesehatan, Abdel Rahman Shahine.
Hingga kini, kementerian kesehatan itu melaporkan bahwa lebih dari 1.000 orang menderita flu babi di negara Arab berpenduduk padat tersebut.
Mesir melaporkan, kasus kematian akibat flu babi pertama pada 2 Juni lalu terhadap seorang gadis Mesir-Amerika Serikat berusia 12 tahun yang ketika itu baru saja kembali dari AS lewat Belanda.
Pada Agustus lalu, pihak berwenang Mesir mendeportasi lima turis Israel penderita virus A-H1N1 karena menolak dirawat di Rumah Sakit Sharm El-Sheikh, kota wisata di pesisir Laut Merah, Mesir.
Dalam pemeriksaan di rumah sakit itu, lima warga Israel dalam satu keluarga tersebut dinyatakan positif menderita flu babi, tetapi mereka menolak diobati lebih lanjut.
Kelima warga Israel itu baru beberapa jam tiba di kota wisata pesisir Laut Merah tersebut.
Saat mereka ditawari untuk berobat, para warga Israel itu menolak dan lari meninggalkan rumah sakit tersebut menuju ke sebuah hotel.
Mesir, yang terpukul keras oleh flu burung pada 2006, memerintahkan pembasmian setiap babi di negara itu sebagai tindakan waspada terhadap flu H1N1. Namun, PBB mengatakan, penyembelihan massal hingga 400.000 babi di Mesir itu merupakan suatu kesalahan.
"Tidak ada alasan untuk melakukan hal itu. Itu bukan influensa babi, itu influensa manusia," kata Joseph Domenech, kepala pejabat kehewanan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB.
Ia mengatakan, FAO telah berupaya untuk menemui para pejabat Mesir, tetapi tak berhasil. Babi sebagian besar dipelihara oleh minoritas Kristen Mesir.
Dalam satu pernyataan, Menteri Kesehatan Hatem Al-Gabali mengatakan, pihaknya memutuskan untuk menyembelih semua kawanan babi yang ada di Mesir untuk tindakan pencegahan tersebarnya virus A-H1N1.
Juru bicara kabinet Magdy Rady mengatakan, Mesir akan memberi ganti rugi kepada peternak karena kematian ternak mereka.
Rady mengatakan, peternakan babi di Mesir kondisinya buruk dan memunculkan risiko kesehatan. "Kondisi itu yang membuat orang Mesir benar-benar takut," katanya, sebelum keputusan itu diambil.