85 Persen Sekring KRL Sudah Harus Diganti

Kompas.com - 31/10/2009, 03:57 WIB

Jakarta, Kompas - Sebanyak 85 persen sekring, di lintas kereta rel listrik Jabodetabek telah mencapai batas pemakaian dan harus segera diganti. Jika tidak, dapat membakar gardu listrik sehingga operasional kereta dapat terhenti dan masyarakat pengguna KRL akan telantar.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Departemen Perhubungan Tundjung Inderawan, Jumat (30/10) di Jakarta, mengatakan, pemerintah segera mengevaluasi umur dan daya dari seluruh high speed circuit breaker (HSCB) atau sekring tersebut.

Dijelaskan, batas kemampuan sekring bukan pada umur, melainkan seberapa sering putus koneksi (trip). Kondisi trip, misalnya, seperti sekring rumah yang turun, saat daya 900 watt dipakai untuk daya 1.000 watt.

”Bila ada sekring yang lemah, kami akan mendorong PT Kereta Api secepatnya mengganti. Tentu, dilihat kemampuan (dana) PT KA, bila kurang pemerintah campur tangan,” ujarnya.

Menurut Tundjung, karena PT KA tak dibebani pembayaran pemakaian prasarana rel atau track access charges (TAC), maka PT KA harus turut merawat dan mengganti sekring.

”PT KA harus merawat prasarana karena dana yang disimpan dari TAC yang tak disetor, adalah sama seperti dana perawatan infrastruktur, yang diberikan regulator ke operator,” kata Tundjung.

Penegasan bahwa 85 persen dari 196 sekring di lintas kereta rel listrik (KRL) telah mencapai batas pemakaian disampaikan Direktur Teknik PT Kereta Api Indonesia Commuter Jabodetabek Bambang Adi Pratignjo.

Menurut Bambang, bila sekring tak diganti, terbakarnya gardu listrik di Stasiun Universitas Indonesia dapat terulang. Padahal, harga gardu listrik Rp 10 miliar-Rp 12 miliar per unit dan lama perbaikan bisa dua bulan.

Secara teknik, kata Bambang, sulit ”mengakali” sekring atau mengganti komponen secara terpisah. Oleh karena itu, mau tak mau sekring tersebut harus diganti. ”Sementara ini, kami memberdayakan sekring dari lintas yang tak padat,” ujarnya.

KRL sangat vital

Pengamat Kereta Api dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Taufik Hidayat, mengingatkan, penambahan dan penggantian sekring mutlak dikerjakan saat frekuensi KRL meningkat. ”Harusnya, sudah ditambah 10 tahun lalu,” kata dia.

Tahun 2009, diproyeksikan 438 perjalanan kereta api per hari, tetapi pada tahun 2013 akan mencapai 886 perjalanan kereta api per hari. Artinya, jumlah sekring di tahun 2013, minimal harus dua kali lipat dari tahun ini.

Bila sekring tak ditambah atau diganti jika terjadi kerusakan, akan dapat ”melumpuhkan” Jakarta dan wilayah sekitarnya di masa datang karena pada tahun 2013 diprediksi volume penumpang per hari mencapai 1,49 juta. Tahun ini 406.000 penumpang.

”Seharusnya, PT KA menyusun pembukuan dengan benar supaya pemerintah tahu pengeluarannya. Dengan demikian, dapat dihitung pendanaan yang dibutuhkan oleh PT KA untuk melakukan perawatan,” kata Taufik. (RYO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau