Mahasiswa Setia Kesulitan Air

Kompas.com - 31/10/2009, 06:39 WIB
 
 

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebanyak 492 mahasiswi Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar atau Setia yang ditampung di bekas Kantor Wali Kota Jakarta Barat mengalami kesulitan air.

Sejak Senin (26/10), pasokan listrik dan air telah diputus seiring dengan eksekusi yang dilakukan Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

”Sudah lima hari kami kesulitan air. Listrik juga sudah diputus. Kami swadaya dan mendapat bantuan untuk membeli air yang setiap hari membutuhkan biaya Rp 1,3 juta,” kata kepala asrama Setia, Yulius Thomas Bilo, Jumat (30/10).

Dalam pantauan pada Jumat sore, ratusan mahasiswi antre mengambil air untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus yang dikirim dengan truk tangki. Pengiriman air dilakukan pada pagi dan sore hari.

Mereka menggunakan ember bekas cat dan jeriken bekas untuk mengangkut air dari belakang gedung blok III. Mereka mandi di kamar mandi yang tersebar di lantai I hingga lantai V di gedung tersebut.

Dari dalam kamar mandi yang kondisinya sudah rusak, tercium bau menyengat. Kondisi serupa terlihat di blok IV dan V yang dihuni para mahasiswa Setia.

”Permisi kak, numpang lewat,” kata seorang mahasiswi berbadan kecil, dengan terhuyung-huyung menggotong ember besar, kepada Kompas.

Menurut Yulius, para mahasiswi paling menderita karena minimnya sarana sanitasi. Sebagian mahasiswi sampai menghentikan kuliah karena keluarga mereka di kampung khawatir.

”Mereka berasal dari luar Jawa, seperti dari Nias, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Kalimantan. Kebanyakan orangtua mereka adalah petani dan pekebun. Setelah lulus mereka diharapkan membantu mengajar anak-anak di kampung,” tuturnya.

Yulius berharap mereka dapat kembali menempati kampus lama di Kampung Pulo, Jakarta Timur. Dia mengatakan, pihak yayasan sedang mengupayakan pembangunan kampus di pinggiran Jakarta.

Solusi

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dalam acara pengucuran Dana Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Kelurahan di Kampung Duri, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, mengatakan, pemerintah sudah menyiapkan solusi bagi mahasiswa Setia.

”Kami mengupayakan solusi jangka pendek dan jangka panjang. Upaya paling memungkinkan adalah memindahkan mereka ke Wisma Transito Transmigrasi di Tanjung Priok,” kata Fauzi.

Fauzi menegaskan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak akan membiarkan warga, termasuk mahasiswa Setia, telantar di Jakarta. Namun, Fauzi mengatakan tidak akan mengizinkan mereka kembali ke kampus lama di Kampung Pulo. (ECA/ONG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau