JAKARTA, KOMPAS.com - Sejak Senin (26/10), pasokan listrik dan air telah diputus seiring dengan eksekusi yang dilakukan Pengadilan Negeri Jakarta Barat. ”Sudah lima hari kami kesulitan air. Listrik juga sudah diputus. Kami swadaya dan mendapat bantuan untuk membeli air yang setiap hari membutuhkan biaya Rp 1,3 juta,” kata kepala asrama Setia, Yulius Thomas Bilo, Jumat (30/10). Dalam pantauan pada Jumat sore, ratusan mahasiswi antre mengambil air untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus yang dikirim dengan truk tangki. Pengiriman air dilakukan pada pagi dan sore hari. Mereka menggunakan ember bekas cat dan jeriken bekas untuk mengangkut air dari belakang gedung blok III. Mereka mandi di kamar mandi yang tersebar di lantai I hingga lantai V di gedung tersebut. Dari dalam kamar mandi yang kondisinya sudah rusak, tercium bau menyengat. Kondisi serupa terlihat di blok IV dan V yang dihuni para mahasiswa Setia. ”Permisi kak, numpang lewat,” kata seorang mahasiswi berbadan kecil, dengan terhuyung-huyung menggotong ember besar, kepada Kompas. Menurut Yulius, para mahasiswi paling menderita karena minimnya sarana sanitasi. ”Mereka berasal dari luar Yulius berharap mereka dapat kembali menempati kampus lama di Kampung Pulo, Jakarta Timur. Dia mengatakan, pihak yayasan sedang mengupayakan pembangunan kampus di pinggiran Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dalam acara pengucuran Dana Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Kelurahan di Kampung Duri, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, mengatakan, pemerintah sudah menyiapkan solusi bagi mahasiswa Setia. ”Kami mengupayakan solusi jangka pendek dan jangka panjang. Upaya paling memungkinkan adalah memindahkan mereka ke Wisma Transito Transmigrasi di Tanjung Priok,” kata Fauzi. Fauzi menegaskan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak akan membiarkan warga, termasuk mahasiswa Setia, telantar