Sebuah Kesepakatan dari Kota Tambang

Kompas.com - 31/10/2009, 11:41 WIB

INVENTARISASI atas pusaka alam, pusaka budaya, dan saujana yang ada di wilayah anggota Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) perlu segera dikaji dan kemudian perlu penetapan hukum untuk melindungi pusaka yang dimiliki tiap kota dari kerusakan dan perusakan.

Sumber daya manusia yang bertugas memelihara dan melestarikan pusaka perlu ditingkatkan. Kerja sama antarlembaga terkait, masyarakat, dan dunia usaha juga harus dikembangkan dalam rangka pelestarian pusaka.

Demikianlah antara lain kesepakatan yang terangkum dalam Kongres I Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) yang berlangsung di Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto, Sumbar, 23-25 Oktober. Ada 32 kota pusaka di Indonesia yang ikut dalam kongres itu, 16 di antaranya dihadiri oleh wali kota masing-masing. Dari Jakarta, hadir Wali Kota Jakarta Utara Bambang Sugiyono dan wakil dari Jakarta Barat, Kasudin Pariwisata Witarsa Tambunan dan Kasudin Kebudayaan I Nyoman Wedhana.

Selain kesepakatan tersebut, kongres juga memilih Wali Kota Sawahlunto Amran Nur, menjadi Ketua JKPI 2009-2012 dan Ternate sebagai tuan rumah Kongres JKPI 2010. Kongres I JKPI juga menetapkan rapat kerja JKPI setahun sekali.

Mengembangkan pengelolaan dan pemanfaatan pusaka perlu dikembangkan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kerja sama antarkota dan kabupaten sesama anggota JKPI perlu dikembangkan dalam upaya mempromosikan pelestarian serta hasil-hasil pelestarian.

Amran Nur dan Joko Widodo (wali kota Solo) merupakan contoh wali kota yang sudah melakukan pelestarian kota mereka dan dinilai sudah berhasil. Sementara itu Bambang Sugiyono (wali kota Jakarta Utara) merupakan wali kota yang kini memulai usaha pelestarian lewat kampanye wisata pesisir.

Bersamaan dengan kongres, Melaka membuka Galeri Melaka di Sawahlunto. Tepatnya di Kawasan Iptek Centre  - Museum Gudang Ransum di "Kota Tambang". Galeri yang diresmikan oleh Datuk Latiff Bin Tamby Hichik akhir pekan lalu itu berisi tentang sejarah dan budaya Melaka. Datuk Latiff adalah Pengurus Jawatan Kuasa Negeri Kerajaan Tempatan dan Alam Sekitar Kerajaan Melaka.

Dengan adanya galeri itu maka Sawahlunto dan Melaka makin erat menjalin hubungan. Amran Nur pun menyatakan, mulai tahun depan Sawahlunto tak lagi jadi kota mati di malam hari. "Kalau biasanya jam 7 malam sudah sepi, saya akan bikin supaya sampai tengah malam, restoran buka. Supaya pelancong yang ke Sawahlunto bisa menikmati kota ini di malam hari," tandasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau