DENPASAR, KOMPAS.com - Gubernur Bali I Made Mangku Pastika menilai minimnya kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali diduga karena adanya salah konsep dan tidak memiliki promosi yang teratur. "Selama ini yang dilakukan hanya bolak-balik ke luar negeri dengan konsep yang tidak teratur. Semuanya harus ditata ulang," kata Pastika di sela-sela acara workshop "Cegah Terorisme" di lingkungan pariwisata Bali, di Denpasar, Sabtu (31/10).
Namun, Pastika enggan untuk memaparkan konsep apa saja yang harus dilakukan penataan ulang tersebut. "Pokoknya akan kita tata lagi, apakah nantinya akan meniru Malaysia atau tidak, bisa dilihat nanti," ujar mantan Kapolda Bali itu.
Dikonfirmasi terpisah, Ketua Bali Hotel Association (BHA), Djinaldi Gozana mengatakan, tak sependapat dengan pernyataan gubernur. Alasannya, untuk kalangan pelaku pariwisata yang sudah profesional sudah melakukan yang terbaik. "Metode promosi dengan menyebarkan pamflet secara door to door hanya dilakukan apabila dana yang dibutuhkan cukup tinggi, dan kita belum ada itu," kata Djinaldi.
Menurut dia, hal itulah yang menyebabkan tingkat kunjungan pariwisata Malaysia tinggi karena didukung dengan dana promosi yang besar. "Dana yang mereka miliki untuk promosi saja 10 kali lipat dibandingkan Indonesia," katanya.
Djinaldi mengemukakan, tantangan Indonesia untuk mendatangkan wisatawan asing lebih banyak lagi, namun masih dihadapkan pada persoalan infrastruktur yang kurang memadai. "Kita bisa saja mendatangkan wisatawan asing 5 juta hingga 7 juta orang, namun di sisi lain kita belum siap seperti Malaysia dan Singapura," katanya.
Selain itu, katanya, persoalan imigrasi yang tidak beres di bandara serta banyaknya petugas yang sering diganti juga menjadi persoalan tersendiri. "Sedangkan kalau ada pencanangan Visit Indonesia, secara otomatis baik dari segi airlines, infrastruktur, dan kelengkapan yang ada di dalamnya harus kompak dan siap. Namun tidak bisa juga dikatakan jelek, semuanya masih berproses ke arah lebih baik," paparnya.
Hal ini dibuktikan dengan tingginya tingkat hunian untuk sejumlah hotel di Bali. Meskipun baru beberapa wilayah saja yang selalu penuh dan menjadi favorit para wisatawan yaitu kawasan Nusa Dua, Kuta, Sanur, Ubud. "Untuk daerah lain bukan tidak disenangi, hanya saja, fasilitas yang disediakan belum memadai seperti di kawasan wisata favorit itu," ujar Djinaldi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang