SEMARANG, KOMPAS.com - Mohammad Yahron (31), ayah dari bayi laki-laki yang diculik, dua kali gagal menemui Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Semarang, Niken Widyah Hastuti, saat akan menanyakan kejelasan tanggung jawab dari pihak rumah sakit.
Saat dihubungi melalui telepon seluler di Semarang, Sabtu (31/10), Yahron beserta istrinya, Dwi Setyowati (33), mengaku jenuh menunggu kabar mengenai keberadaan anak keduanya di dalam kamar perawatan. "Saya sudah dua kali berupaya menemui Direktur RSUD, namun selalu gagal. Saya hanya ingin menanyakan mengenai perkembangan nasib anak saya," katanya.
Ia menjelaskan, ada keinginan untuk segera meninggalkan RSUD Kota Semarang. Alasannya, di rumahnya, dia masih memiliki seorang anak perempuan yang selama ditinggal rumah sakit diasuh salah seorang saudaranya.
Keinginan Yahron tersebut, terpaksa harus ditunda karena selain belum ada kejelasan nasib anak keduanya yang diculik, ia masih meragukan tanggung jawab dari pihak rumah sakit. "Saya takut kalau pulang ke rumah terus pihak rumah sakit lepas tanggung jawab terhadap kasus penculikan anak saya ini karena belum ada jaminan yang pasti," ujarnya.
Dirinya kini hanya bisa menunggu itikad baik pihak rumah sakit dan berharap agar anaknya segera ditemukan.
Mengenai kompensasi yang akan diberikan oleh pihak rumah sakit, Yahron mengaku belum memikirkan hal tersebut. "Saya hanya menginginkan anak kami kembali saja, sudah itu saja" katanya.
Hingga saat ini, pihak rumah sakit tidak dapat dikonfirmasi mengenai keinginan Mohammad Yahron untuk bertemu dengan Direktur RSUD Kota Semarang dan menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada Humas Pemerintah Kota Semarang.
Sementara itu, kondisi kesehatan ibu bayi, Dwi Setyowati masih memerlukan perawatan dari pihak rumah sakit karena mengalami infeksi pada luka bekas operasi sesar saat melahirkan bayi yang diculik tersebut.
Dwi disarankan oleh perawat untuk tetap beristirahat di atas tempat tidur dengan cara tengkurap agar lukanya tidak semakin membengkak.
Sebelumnya, Kamis (22/10), pasangan Muhamad Yahron dan Dwi Setyowati, warga Dusun Bogosari RT 01 RW 03 Kelurahan Bosari, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, kehilangan bayi laki-lakinya yang baru berumur dua hari.
"Pada Kamis siang sekitar pukul 14:45 WIB bayi saya dimandikan oleh salah seorang bidan rumah sakit bernama Milla Nourbaita (29), kemudian digendong dan dikembalikan ke tempat perawatan bayi," kata Yahron kepada polisi saat melaporkan kejadian tersebut ke Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Semarang Selatan.
Beberapa saat kemudian, bayi tersebut digendong oleh seorang siswa perawat yang sedang magang di RSUD Kota Semarang bernama Eka Laiyanatus Sifah (18) untuk dibawa ke ruang perawatan ibunya.
Saat akan menuju ruang perawatan, tiba-tiba Eka dihampiri oleh seorang perempuan yang mengaku sebagai saudara dari ibu si bayi dan meminta izin untuk menggendong bayi tersebut. "Perempuan itu meminta izin kepada perawat yang membawa bayi saya dan mengatakan akan membawa ke ruangan tempat istri saya menjalani perawatan," ujarnya.
Namun setelah ditunggu-tunggu beberapa waktu, bayi laki-laki tersebut diketahui tidak dibawa ke ruangan ibunya melainkan dibawa kabur oleh perempuan yang diduga merupakan anggota jaringan penculikan anak.