JAKARTA, KOMPAS.com — Kini tak ada lagi kesibukan pada stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang telah berdiri lebih dari 30 tahun itu, para petugas yang biasanya tak henti melayani para pembeli, kini hanya tertunduk lesu di kantor SPBU 34.10303 yang terletak di Jalan Sumenep, Jakarta Pusat. "SPBU ini tutup, alasannya gara-gara berdiri di atas jalur hijau," ujar Kantiman (59), seorang pegawai SPBU, kepada Kompas.com, Sabtu (31/10).
Ia mengatakan, seluruh pegawai SPBU yang berjumlah 12 orang tersebut hanya bisa pasrah meski sumber mata pencarian mereka telah hilang. Sebelum SPBU itu resmi ditutup, berbagai perlawanan pernah dilakukan, mulai dari berdialog dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pertamina hingga berunjuk rasa.
"Tapi semua usaha itu gagal, kita orang kecil, selalu kalah dengan mereka yang punya kuasa," ucapnya sedih.
Nasib serupa juga dialami Sugiharto (29), petugas SPBU 31.10301, yang terletak di seberang RSCM, dirinya harus kehilangan pekerjaan yang telah digelutinya lebih dari 10 tahun. SPBU tempat Sugiharto bekerja terpaksa tutup karena berdiri di atas jalur hijau. Hingga saat ini belum ada kejelasan status Sugiharto dan 21 rekannya.
Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, dirinya harus menguras tabungan yang jumlahnya tak seberapa. Toni (24), petugas SPBU lainnya, juga mempunyai keluhan yang sama.
Ia merasa beban hidup yang ia pikul semakin berat. Selama setahun menjadi petugas SPBU, dirinya selalu mencari cara agar gaji sebesar Rp 700.000 yang didapatnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama satu bulan.
Hingga saat ini belum ada kejelasan bagaimana nasib Toni dan rekan-rekannya yang lain. Pemilik SPBU juga belum mendapat kepastian dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pertamina apa akan mendapat ganti rugi atau tidak.
Jika keadaan terus berlanjut, Toni berencana akan kembali ke kampung halamannya di Sumatera Barat. Dirinya juga berencana untuk alih profesi menjadi pedagang. "Mending pulang kampung daripada di rantau enggak jelas. Jadi pedagang saja, orang Padang kan terkenal jadi pedagang," senyumnya yang berhias kegetiran.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang