JAKARTA, KOMPAS.com - Kakak beradik Djaduk Ferianto dan Butet Kertaradjasa akan menghangatkan pelataran Bentara Budaya Jakarta, Jl Palmerah Selatan 17 Jakarta, Kamis (5/11), mulai pukul 19.30, dengan musik dan parodi sosialnya. Tampil bersama Orkes Sinten Remen pertunjukan mereka berjudul “Buaya Kroncong Gendong Cicak”, yang akan dibawakan dengan jenaka. Butet yang dikenal luas di panggung teater, menyiapkan monolog khusus untuk kesempatan tersebut.
Orkes Sinten Remen, kelompok seni asal Yogyakarta yang berdiri tahun 1997 ini, ingin menyegarkan musik kroncong dengan memasukkan berbagai unsur musik seperti jazz, blues, rock, reggae, sampai dangdut. Mereka memang tidak ingin terkurung di dalam lagu-lagu kroncong konvensional, meski ragam instrumennya mirip orkes kroncong. Di panggung penampilan mereka terkadang teatrikal lewat ulah belasan awak dengan menyodorkan tema yang tengah hangat, musik terdengar sangat dinamis. Dengan cara itu mereka menyegarkan musik maupun suasana pertunjukan musik.
Nama grup ini tidak pakai embel-embel “keroncong” karena memang tidak ingin membatasi diri di dalam satu gaya saja. Penggarapan dan aransemen cenderung bebas, bergerak ke mana saja yang diinginkan. Mereka tidak ingin musik keroncong “berjalan di tempat” dan karena itu menggunakan berbagai masukan dari gaya musik lain termasuk berbagai beat yang sedang digemari sehingga bisa diterima segala kalangan dan segala usia.
Kelompok seni ini sering disebut urakan, kenthir atau gila karena kenakalan musikal dan belakangan juga kenakalan di panggung. Mereka sering mengusung berbagai tema sosial yang tengah menggejala, menjadi perbincangan hangat, atau kontroversial. Dengan cara itu mereka menyegarkan musik maupun suasana pertunjukan musik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang