Meramaikan Persaingan di Ceruk Pasar Premium

Kompas.com - 02/11/2009, 23:14 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Bak piramida yang mengerucut, di bagian puncak dari bisnis mesin cuci adalah mesin cuci jenis front loading atau yang dikenal sebagai mesin cuci bukaan depan. Banyak keunggulan mesin cuci jenis ini ketimbang mesin cuci bukaan atas (top loading).

Catatan yang sempat terkumpul, Senin (2/11) menunjukkan, secara teknologi mesin cuci bukaan depan menggunakan cara berputar vertikal seperti perputaran roda. Akibatnya, pakaian selalu jatuh ke bawah satu demi satu.

Sementara, mesin cuci bukaan atas justru berputar secara horizontal. Akibatnya, pakaian yang dicuci selalu saling melilit karena pusaran air yang dipakai.

Tak cuma itu, mesin cuci bukaan atas cenderung membutuhkan banyak air. Soalnya, pengguna mesti mengisi air sampai penuh agar mesin bisa dijalankan. Pada mesin cuci bukaan depan, selama proses pencucian, air malahan masuk sedikit demi sedikit.

Oh ya, soal tingkat kekeringan pakaian yang dicuci, mesin cuci bukaan depan lebih unggul. Soalnya, teknologi yang dipakai sama seperti kala pakaian dibanting-banting. Alhasil, tingkat kekeringan menyentuh angka 95 persen kalau dibandingkan dengan bukaan atas yang berada di angka 75 persen.

Sementara itu, seperti diceritakan Head of Home Appliance Product Marketing LG Michael Adisuhanto, mesin cuci bukaan depan bisa dimutakhirkan dengan sistem inverter direct drive. "Motor penggerak dirancang terintegrasi dan bekerja tanpa menggunakan karet penghubung," katanya tatkala memperkenalkan jajaran mesin cuci LG bukaan depan yang dilengkapi dengan teknologi tersebut.

Dengan begitu, dijamin, mesin cuci macam itu boleh dikata tak mengeluarkan bunyi kuat saat dioperasikan. "Kalau tanpa suara kan, konsumen bisa nyaman," kata Michael yang dalam kesempatan itu didampingi oleh Marketing General Manager Halim Astono dan Marketing Manager Home Appliance Chung Jang Hoon.

Asal tahu saja, konsumen acap mengeluhkan kebisingan ketika tengah menggunakan mesin cuci. Ternyata, suara berisik muncul dari teknologi dua motor penggerak yang terhubung melalui gelang karet. Nah, ketika mesin pertama bergerak menghidupkan mesin kedua, asal muasal kebisingan berawal di sini.

Premium

Terlihat memang, mesin cuci bukaan depan memang pada akhirnya berada di pasar premium ketimbang jenis lainnya. Sudah barang tentu, saat dilepas ke konsumen, harganya di atas rata-rata. Banderol mesin cuci bukaan depan, biasanya, berada di atas angka Rp 3 juta per unitnya. Bandingkan dengan mesin cuci bukaan atas yang sudah bisa dibawa pulang dengan duit pengganti sejutaan rupiah.

Michael sendiri mengaku pihaknya melepas ke pasaran mesin cuci bukaan depan berteknologi seperti disebutkan tadi mulai pada harga Rp 5,5 juta. "Tertinggi harganya Rp 21 juta," katanya.

Kalau dihitung-hitung, terang Michael, sampai sekarang, kontribusi mesin cuci bukaan depan jika dibandingkan dengan seluruh jenis mesin cuci berada di kisaran paling tinggi 7 persen. Sudah begitu pemain utama di kelas ini masih dalam hitungan jari. Artinya, memang masih banyak kesempatan untuk berperan lebih besar di ceruk ini.

Pasar mesin cuci bukaan depan, terang Michael, meningkat separuh pada masa 2008-2009 menjadi 50 persen bila dibandingkan dengan periode 2007 -2008. "Untuk tetap menang di pasar, kami tetap mengandalkan inovasi dan strategi," demikian Michael Adisuhanto. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau