TUAL, KOMPAS.com — Keberadaan nelayan asing di perairan Indonesia sering membuat geram karena berbagai kasus pencurian ikan. Namun, di Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku, kedatangan nelayan asing, khususnya dari Thailand, justru selalu ditunggu karena mampu memutar roda perekonomian.
Selasa (27/10) siang lalu begitu terik saat Bun (27), nelayan asal Thailand, bergegas menuruni tangga menuju dek belakang KM Cisadane 01. Ia bertelanjang dada, mengusir gerah yang membungkus Tual saat musim kemarau. Bun tersenyum ramah, tetapi tidak mampu menyembunyikan kelesuan di mata dan wajahnya.
”Saya bosan di sini. Dua tahun tidak kerja. Tidak kerja tidak ada rupiah,” ujar Bun.
Bun terjebak di Tual sejak 2007 seiring dengan ditahannya KM Cisadane 01 karena diduga melanggar undang-undang perikanan. Polisi menahan kapal tempat Bun bekerja itu saat membongkar ikan ke kapal penampung di kolam sandar Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Tual.
Bun hanyalah satu dari sekitar 100 nelayan asal Thailand yang bernasib sama. Mereka adalah nelayan yang bekerja di 18 kapal penangkap ikan yang sedang menjalani proses hukum di Pengadilan Perikanan Tual. Para nelayan Thailand itu hanya bisa berharap proses hukum segera selesai.
Selama hampir dua tahun, mereka menyambung hidup dengan bekerja sebagai buruh angkut di pelabuhan. Jaring tidak lagi digunakan untuk menangkap ikan, tetapi untuk menjebak babi hutan. Ada juga yang menjadi buruh bangunan.
”Sekitar 20 orang menjadi buruh bangunan dengan bayaran Rp 50.000 per hari,” ujar Bun dengan bahasa Indonesia patah-patah.
Sebagian nelayan lainnya bekerja di kebun sayur milik warga Desa Ohoitel, Tual, yang dulu menjadi langganan membeli sayur untuk bekal melaut.
”Mangkal” di Tual
Kedekatan para petani sayur dan nelayan Thailand bermula saat banyak kapal ikan berpangkalan di Tual pada awal tahun 1990-an. Nelayan asing membeli sayur di Pasar Tual yang didatangkan dari Surabaya. Masyarakat Tual menangkap peluang itu, lalu mulai menanam kangkung, bayam, selada, tomat, dan cabai. Sayuran lokal itu selalu habis diborong para nelayan untuk bekal tiga bulan melaut.
Setiap kali kapal ikan merapat di PPN Tual, nelayan asing memborong habis sayuran petani. Dagangan penjual bahan pangan di Pasar Tual pun laris. Di tempat karaoke yang bertebaran di Tual, lagu-lagu berbahasa Thailand dan China memecah malam, diselingi tawa manja nona-nona pendamping.
Tukang ojek paling senang jika mendapat penumpang nelayan Thailand karena mereka mau membayar mahal. Sebagai gambaran, nelayan Thailand membayar Rp 25.000 dari PPN Tual ke Pasar Tual. Warga lokal hanya membayar Rp 10.000.
Geliat perekonomian itu kini tinggal kenangan. Kapal-kapal ikan berawak orang Thailand, Korea, dan China tidak lagi masuk ke PPN Tual. Kapal-kapal ikan hengkang pascaoperasi pemberantasan pencurian ikan sepanjang 2007-2008. (ang)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang