Sains Butuh Perhatian...

Kompas.com - 03/11/2009, 15:58 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sains adalah bidang pengetahuan strategis bagi perjalanan bangsa ke depan. Namun, minat para calon mahasiswa memilih sains saat ini masih rendah.

Di sisi lain, umumnya kondisi laboratorium di fakultas-fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) di hampir semua universitas di Indonesia dalam kondisi yang kurang menggembirakan. Kondisi tersebut sangat membutuhkan perhatian besar, bukan saja dari pengelola satuan pendidikan di perguruan tinggi, melainkan juga pemerintah dan swasta.

Hal tersebut diungkapkan Rektor Universitas Indonesia (UI) Prof Dr des Soz Gumilar R Somantri dalam jumpa pers Seleksi Daerah Olimpiade Sains Nasional Perguruan Tinggi Indonesia (OSN PTI)-Pertamina, Selasa (3/11) di Kampus UI, Depok.

"Laboratorium dasar yang ada tidak terlihat sophisticated, selain tidak nyaman, juga tidak memberikan perasaan yang aman. Mana mungkin mahasiswa melakukan riset atau penelitian dengan peralatan yang usang," ujar Gumilar.

Pun, menurut Gumilar, kondisi tersebut dialami oleh rata-rata advance laboratory yang diperuntukkan bagi para dosen peneliti di banyak perguruan tinggi. Menurutnya, lab cycle pada advance laboratory tersebut rata-rata berumur pendek, maksimal dua tahun. 

"Perputarannya cepat karena selalu saja ada yang baru. Untuk itu, perlu dukungan banyak pihak, setidaknya dukungan yang bisa menyokong kemandirian universitas untuk memiliki SDM yang akan mampu menciptakan dan mengembangkan peralatan-peralatan penelitiannya sendiri," tambah Gumilar.

Menurut Gumilar, hal itu menyebabkan para dosen S2 atau S3 selama ini pergi ke Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) di Serpong, Tangerang, untuk melakukan penelitiannya. Bahkan, para dosen peneliti itu terpaksa harus ke luar negeri.

Pelecut

Menurut Gumilar, salah satu penyebab rendahnya minat pelajar atau calon mahasiswa ke sains ternyata stigma Sains sebagai bidang pengetahuan yang sulit untuk dipelajari. Stigma "sulit" itu, kata Gumilar, juga berarti sulit dalam mencari pekerjaan setelah lulus kuliah.

"Itu karena kita sendiri yang menomorduakan sains. Sains masih sebagai kelas dua dibandingkan bidang lain, yaitu ekonomi, bisnis, dan lain-lainnya, padahal tuntutan kita ke depan kian sulit, mulai dari masalah kerusakan lingkungan, kesulitan energi, hingga pangan, dan sebagainya yang kelak sangat membutuhkan para ahli di bidang sains," ujar Gumilar.

Pendapat tersebut diamini oleh Direktur Utama PT Pertamina Karen Agustiawan. Karen menandaskan bahwa negara kita masih bergantung pada migas sehingga hal itu perlu dijadikan pelecut mahasiswa untuk mendalami bidang sains.

"Untuk itu, kami juga terus menggalakkan program-program CSR yang lebih strategis dan bermanfaat bagi dunia pendidikan, salah satunya upaya mendukung bidang sains dengan menggelar OSN sebagai program reguler," ujar Karen.

Menanggapi hal itu, Direktur Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Departemen Pendidikan Nasional Suryo Hapsoro Tri Utomo justru terkesan menangkis pendapat Rektor UI. Tanpa merinci data yang pasti, Suryo mengatakan bahwa dua tahun belakangan ini peningkatan terjadi pada jumlah mahasiswa sains di semua perguruan tinggi. 

"Saat ini kita sedang menuju pada fasilitas bersama penelitian antar-beberapa perguruan tinggi, rencananya ada tiga tempat," ujar Suryo, yang belum bisa menyebut ketiga tempat tersebut. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau