New Wave Marketing Trilogy di Dell

Kompas.com - 04/11/2009, 09:07 WIB

KOMPAS.com - Setelah ditinggal oleh sang pendiri Michael Dell di tahun 2004, Dell memang seakan turun kembali ke bumi setelah menikmati kesuksesannya merevolusi industri lewat model pemasaran langsungnya.

Masalah demi masalah terus berdatangan, mulai dari insiden komputer meledak, baterai rusak, servis yang semakin buruk, skandal keuangan, sampai penurunan pangsa pasar yang terus digerogoti karena langkah kompetitor seperti HP, Acer, Fujitsu yang kian agresif. Profit dan harga saham terus pula turun seiring dengan berbagai masalah tersebut. Sejak Desember 2004 sampai 2008 lalu, perusahaan asal Texas ini kehilangan nilai pasarnya sekitar 35 miliar dollar AS. Sejak tahun 2006, posisinya sebagai pemimpin pasar PC digeser oleh HP.

Masalah di Dell memang sangat kompleks, bukan saja dilihat dari keuangan dan operasionalnya, tapi juga dari sisi pemasaran yang kian terjerumus ke lubang krisis. Badainya bisa dibilang dimulai ketika Jeff Jarvis, seorang blogger, yang menulis posting berserinya yang bertajuk “Dell Hell,” sebagai luapan emosinya terhadap customer service Dell yang tidak pernah menggubris komplen yang ia sampaikan atau bahkan menerima telepon ketika ingin berinteraksi kepada mereka. Efek dari Dell Hell tersebut memicu percakapan dimana-mana, baik di online maupun di dunia offline. Harian The New York Times membahas blog tersebut hanya dua hari setelah Jarvis mempostingnya di internet, diikuti pula oleh Business Week yang turut serta membahasnya.

Kasus tersebut cukup ironis, mengingat Dell pada awal ia berdiri terkenal dengan reputasi layanannya yang sangat bagus. Setiap kali pelanggan membeli PC dari Dell, di dalam kotaknya disisipkan sebuah kartu pos yang diberi tajuk “Dear Michael,” sebagai langkah ajakan bagi pelanggan untuk memberi masukan kepada Michael Dell secara langsung terhadap berbagai hal yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan di Dell.
Tentunya itu mudah dilakukan apabila perusahaan masih kecil. Seiring perjalanan waktu, Dell kian sukses dan menjadi sebuah raksasa di industri, yang model bisnisnya menjadi inspirasi bagi segenap kalangan pemasaran.

Setelah ditinggal Michael Dell di tahun 2004, perusahaan ini memang seakan kehilangan karakter dan rohnya. Maka dari itu ketika ia mengambil alih kembali perusahaan pada tahun 2007, berbagai hal yang strategis langsung dilakukan oleh Michael mulai dari penggantian tim manajemen, perampingan organisasi, dan penghematan dari sisi operasional. Dari sisi marketing, berbagai hal dalam rangka turnaround juga dilakukan lewat berbagai inisiatif yang dipayungi lewat istilah Dell 2.0.

Dilihat dari Direct2Dell , IdeaStorm, StudioDell, dan platform baru lain yang ada di Dell saat ini, dari sisi marketing pada dasarnya ada tiga hal yang coba dibenahi oleh Michael Dell langsung. Dan ketiga hal ini sesuai dengan apa yang kami sering sebut sebagai marketing trilogy yang terdiri dari customer management, product management, dan brand management. Tentunya yang gayanya new wave bukan legacy! Karena apa yang dilakukan oleh Michael Dell, ternyata adalah (1) pengelolaan pelanggan berorientasi pada komunitas, (2) pengelolaan produk berbasiskan co-creation bersama komunitas, dan juga (3) pengelolaan brand yang berorientasi kepada penonjolan karakter Dell yang memokuskan kepada komunitas pelanggan.
Apa yang dilakukan oleh Michael Dell sejalan dengan apa pemikiran kami tentang tugas pemasar dalam New Wave ini. Implikasi penting dari peralihan legacy ke new wave adalah bagaimana pemasar me-manage tiga tugas utamanya yaitu mengelola pelanggan, produk, dan brand-nya yang harus disesuaikan dengan prinsip-prinsip 12C pemasaran New Wave.

Seperti yang akan kami bahas dalam beberapa artikel ke depan, tiga tugas utama di era New Wave, yang kami sebut sebagai Marketing Trilogy ini adalah pertama, pengelolaan pelanggan dengan menggunakan komunitas. Kedua, karena basisnya komunitas, maka pengelolaan produk yang berorientasi dengan co-creation menjadi tugas bagi pemasar di era New Wave. Ketiga, karena harus menunjukan kehorisontalan dan sisi yang humanisnya, pengelolaan brand di era New Wave ini harus berbasis pada pembangunan karakter yang horizontal dan humanis pula.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau