Terimbas KPK Vs Polri, Rupiah Perlu Kawalan BI

Kompas.com - 04/11/2009, 10:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pelemahan rupiah terhadap dollar AS bakal terus berlanjut bila tidak dikawal secara ketat oleh Bank Indonesia. "Jika tidak ada kawalan dari BI, mungkin rupiah akan makin terpuruk dan bergerak sangat berfluktuatif," kata ekonom Bank Danamon, Anton Gunawan, dalam ikhtisar perekomoian Bank Danamon.

Rupiah tercatat pada level 9.595 per dollar AS per 2 November dari level 9.485 per dollar AS per 26 Oktober. "Dalam seminggu ini, rupiah telah mengalami depresiasi sebesar 110 poin," katanya.

Menurut Anton, tekanan rupiah mungkin bersumber dari persepsi negatif investor terhadap konflik politik kepolisian-KPK yang makin hangat. "Jika masalah ini tidak diselesaikan secara tuntas dan cenderung berlarut-larut, bisa menurunkan kepercayaan investor terhadap Indonesia, yang akan menekan rupiah lebih lanjut," tuturnya.

Selain itu, sebut dia, tekanan terhadap rupiah akan semakin besar dengan adanya wacana bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, melakukan pengetatan kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuannya. "Jadi, menurut perkiraan kami, rupiah pada akhir tahun akan berada pada level 9.600 per dollar AS," ujar dia.

Dikatakannya, jika dilihat dari fundamental ekonomi domestik dan global, tidak ada perkembangan terbaru yang sangat mengejutkan. "Pelemahan rupiah akhir-akhir ini lebih disebabkan oleh berbaliknya dollar AS terhadap mata uang enam negara-negara maju (indeks dollar AS), termasuk negara-negara kawasan regional. Penguatan dollar AS merupakan proses yang wajar setelah mengalami pelemahan yang cukup lama terhadap mata uang negara lain," kata dia.

Selama tahun 2009, tren penguatan rupiah (apresiasi) jauh lebih cepat dibandingkan dengan mata uang kawasan regional dan dunia, kecuali won. Sejak Feburari, dalam kurun waktu lebih dari tujuh bulan, apresiasi rupiah mencapai lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan mata uang negara kawasan regional, seperti ringgit, peso, bath, dan dollar Singapura. Bahkan, terhadap ringgit, rupiah menguat sampai 4,8 kali lipat.

Namun, penguatan rupiah yang terlalu cepat ini juga menimbulkan risiko. Proses awal koreksi terhadap rupiah mulai terlihat dalam seminggu terakhir ini. "Ternyata, rupiah mengalami koreksi lebih tajam dibandingkan dengan mata uang negara-negara lain, khususnya kawasan ekonomi regional. Tekanan rupiah makin tinggi karena beberapa bulan terakhir ini, investor asing banyak keluar masuk di pasar saham dan SBI yang merupakan investasi jangka pendek," kata Anton Gunawan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau