Memahami Fobia

Kompas.com - 04/11/2009, 11:04 WIB

KOMPAS.com — Takut pada ular, petir, atau gelap mungkin hal yang biasa. Namun, bagaimana bila seorang pria berbadan besar nyalinya langsung ciut melihat kancing berlubang. Begitu melihat kancing jenis itu, ia merasa sangat tersiksa, gemetar, bahkan sampai perutnya mual.

Memang sungguh tak enak diganduli ketakutan pada hal yang bagi orang lain dianggap sepele. Ketakutan tidak normal ini disebut juga dengan fobia, yang berasal dari kata phobos (Yunani) yang berarti "ketakutan". Secara harafiah, fobia adalah suatu ketakutan yang abnormal dan tidak beralasan terhadap suatu obyek atau situasi tertentu.

Dalam situs Webmd disebutkan, rasa takut akan melindungi kita dari bahaya, tetapi fobia tidak ada kaitannya dengan bahaya. Penderita fobia mungkin menyadari ketakutannya tidak beralasan, tetapi mereka juga tidak memahami perasaannya.

Macam dan ragam fobia sangatlah banyak, seperti dimuat dalam phobialist.com. Namun, secara umum para ahli membagi fobia dibagi ke dalam tiga kategori, yakni agoraphobia (takut berada di tempat umum yang tidak diketahui pintu keluarnya), fobia sosial (takut atau menghindari situasi sosial), serta fobia yang spesifik, yaitu ketakutan yang irasional terhadap suatu obyek atau situasi.

Seseorang bisa saja mempunyai satu fobia atau lebih, karena fobia biasanya disebabkan pengalaman masa lalu yang membawa trauma bagi penderita. Secara umum, berikut adalah beberapa jenis fobia yang sering dialami orang.

Agoraphobia
Agora merupakan pasar atau tempat pertemuan di masa Yunani kuno. Seorang agoraphobia merasa ketakutan berada di tempat umum, seperti di bank, pasar, dan sebagainya. Fobia jenis ini lebih banyak dialami wanita dibanding laki-laki. Bila tidak diatasi, fobia ini akan membuat seseorang lebih suka mengurung diri di rumah.

Fobia sosial
Orang yang mengalami fobia sosial sebenarnya berbeda dengan orang pemalu (shy), bahkan yang pemalu berat sekalipun. Orang yang fobia sosial merasa sangat ketakutan dan tak tahu harus bersikap bagaimana dalam situasi sosial, baik pertemuan langsung maupun saat harus berbicara dengan orang lain di telepon. Biasanya mereka merasa semua orang memerhatikan dirinya. Hal ini menyebabkan ia jadi gemetar, jantung berdebar, dan sama sekali tak bisa berbicara.

Claustrophobia
Ini adalah bentuk ketakutan yang berlebihan saat berada di ruangan tertutup. Penderita fobia jenis ini biasanya menghindari berada dalam lift atau ruangan yang tidak berjendela.

Zoophobia
Salah satu bentuk fobia yang paling banyak diderita orang adalah zoophobia atau takut pada binatang. Zoophobia dibagi lagi ke dalam berberapa jenis, tergantung ketakutannya pada binatang tertentu, misalnya arachnophobia (takut pada laba-laba), onithophobia (takut pada burung), dan sebagainya.

Brontophobia
Kata "bronte" dalam bahasa Yunani berarti petir atau halilintar. Brontophobia berarti takut pada halilintar. Meski orang yang menderita fobia ini sadar bahwa petir tidak akan melukai mereka, namun mereka lebih suka berada dalam rumah saat hujan dan muncul petir.

Acrophobia
Ini adalah jenis ketakutan berlebihan terhadap ketinggian. Seseorang dengan fobia ini akan mengalami serangan panik saat harus naik tangga atau tempat yang tinggi. Terkadang, mereka sampai tak bisa bergerak sama sekali sehingga menyulitkan orang lain untuk membantunya.

Aerophobia
Seseorang yang menderita aerophobia akan merasa takut naik pesawat. Biasanya fobia ini muncul setelah ia mengalami pengalaman yang traumatik yang berkaitan dengan pesawat terbang.

Penyembuhan fobia sering kali dilakukan oleh psikiater atau psikolog klinis. Caranya tergantung pada apa yang menyebabkan fobia tersebut. Namun, modal utamanya adalah keinginan besar dari penderita untuk sembuh.

Salah satu terapi penyembuhan fobia adalah desensitization atau secara bertahap penderita fobia dihadapkan pada situasi atau obyek yang membuatnya takut. Kemudian terapis akan melakukan komunikasi dengan penderita untuk mengubah pola pikir sekaligus meningkatkan kepercayaan diri penderita.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau