Suara Pria Menggambarkan Aktivitas Seksualnya?

Kompas.com - 04/11/2009, 19:54 WIB

KOMPAS.com - Ketika Anda menerima telepon dari seorang pria yang tak Anda kenal, dan Anda terpesona mendengar suaranya yang empuk dan dalam, apakah Anda langsung berimajinasi mengenai tampang pria tersebut? Sebagian besar dari Anda pasti mengatakan "Ya". Dan, kecewakah Anda ketika akhirnya melihat sosok pria tersebut di hadapan Anda?

Penelitian menunjukkan, suara seorang pria yang begitu nyaman di terdengar di telinga ternyata juga menampakkan wajah yang good looking. Namun setidaknya, ketika Anda kecewa mendapati wajah pria di seberang telepon tidak seganteng yang Anda bayangkan, ia ternyata masih memiliki sejumlah kelebihan. Enggak percaya? Cek hasil penelitiannya di bawah ini.

Pria tampan bersuara dalam
Anda belum pernah mendengar hal ini? Suara seorang pria ternyata juga menggambarkan kemampuan reproduksinya. Bukan sekadar mitos bahwa pria yang tampan biasanya memiliki suara yang dalam. Northumbria University di Inggris mengadakan suatu penelitian dimana mereka merekam suara para pria, dan mengajak pendengar (pria dan wanita) mengukur suara para pria tersebut berdasarkan daya tariknya, dominasi, kepercayaan diri, dan keseksiannya. Pendengar kemudian diminta melihat foto-foto pria dan menilainya. Para peneliti mendapati bahwa pria dengan suara yang dalam memiliki daya tarik yang lebih tinggi daripada yang bersuara tinggi, dan suara yang dalam juga berkaitan dengan wajah yang lebih menarik.

Mengindikasikan aktivitas seksualnya
Suara tidak hanya dapat memberi petunjuk bagaimana penampilan seseorang, tetapi kemungkinan juga kadar aktivitas seksualnya. Sebuah studi pada tahun 2004 mengamati hubungan antara daya tarik suara dan ukuran tubuh. Pada pria, suara yang memikat dikaitkan dengan rasio pundak hingga pinggul yang lebih tinggi (pundak lebih lebar, pinggang ramping). Sedangkan pada wanita, daya tarik suara dikaitkan dengan rasio pinggang ke pinggul (pinggang lebih ramping daripada pinggul). Para penulis studi ini berspekulasi bahwa karena testosteron mempengaruhi suara dan perkembangan fisik, suara bariton pria yang dalam dapat mengindikasikan massa otot dan kekuatan yang lebih besar, dan oleh karenanya, keserasian genetik yang lebih besar.

Begitu juga dengan wanita, hormon estrogen dan progesteron mempengaruhi suara wanita maupun dimensi tubuhnya, yang dapat mengindikasikan status reproduksinya. Karena suara wanita dikorelasikan dengan proporsi tubuh yang serasi (yang memainkan peran penting dalam daya tariknya) tidak mengherankan jika suara wanita juga dihubungkan dengan aktivitas seksualnya. Studi tersebut juga mendapati bahwa pria dan wanita dengan suara yang menggemaskan dilaporkan memiliki pasangan yang lebih seksual, mendapatkan pengalaman seksnya dalam usia yang lebih muda, dan cenderung tidak memilih-milih.

Perubahan suara wanita saat menstruasi
Ada fakta lain seputar suara wanita yang lebih menarik. Studi, yang dipublikasikan di jurnal Evolution and Human Behavior, merekam suara wanita pada 4 waktu yang berbeda selama masa menstruasi mereka. Dari studi tersebut terlihat bahwa wanita memancarkan suara paling menarik selama masa ovulasinya, ketika risiko pembuahan lebih tinggi. Sebaliknya, suara mereka terdengar paling kurang menarik selama menstruasi, ketika risiko pembuahan paling rendah. Penulis berspekulasi bahwa hormon-hormon yang mempengaruhi pangkal tenggorokan lah yang menyebabkan perubahan ini.

Namun ada faktor-faktor lain yang dapat mengubah bagaimana suara kita terdengar oleh orang lain. Orang cenderung menemukan suara yang penuh percaya diri lebih menarik. Dengan cara yang sama, suara yang jernih dan murah hati dapat meningkatkan ketertarikan antarpribadi, dan kemampuan menerima orang lain.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau