Ada Skenario Nasrudin Dihajar Saja

Kompas.com - 05/11/2009, 11:57 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Antasari Azhar pernah mengusulkan agar mobil Nasrudin Zulkarnaen ditabrak lalu Direktur PT Putra Rajawali Banjaran itu dipukuli. Usulan tersebut diajukan oleh Antasari Azhar kepada Sigid Haryo Wibisono.

"Ada skenario mobil Nasrudin ditabrak lalu ia dihajar," kata Sigid saat bersaksi dalam sidang kasus pembunuhan Nasrudin dengan terdakwa Antasari Azhar di PN Jakarta Selatan, Kamis (5/11).

Skenario itu, menurut Sigid, diusulkan supaya teror terhadap Antasari dan istrinya, yang diduga dilakukan oleh Nasrudin, segera berakhir. Menurut Sigid, Antasari pernah mengeluh padanya bahwa ia diteror oleh seseorang yang diduga Nasrudin, sedangkan seorang perempuan disebut kerap meneror istri Antasari.

"Terornya dengan mengatakan (Antasari) melakukan tindakan asusila dengan perempuan yang meneror," ujar Sigid tanpa menyebut jelas apakah perempuan yang dimaksud adalah Rani Juliani. Dalam kasus ini, Sigid kemudian menyarankan Antasari agar lapor ke Kapolri.

Masih menurut Sigid, guna menghentikan teror, muncul juga usulan agar Rani Juliani dijebak seolah ia terlibat dalam pesta narkoba. Namun, kedua usulan ini urung dilaksanakan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau