Takut dengan KPK, Anggodo Minta Perlindungan

Kompas.com - 05/11/2009, 16:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Adik buronan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Anggoro Widjojo, Anggodo Widjojo, mengaku takut dengan KPK. Ketakutan ini meluncur dari mulut Anggodo ketika bertemu di depan Tim Delapan di Kantor Dewan Pertimbangan Presiden, Jakarta, Kamis (5/11).

Awalnya, Ketua Tim Delapan Adnan Buyung Nasution bertanya apakah Anggodo masih tinggal di alamat yang sebelumnya. Ketika Anggodo menjawab "iya", Adnan meminta referensi jaminannya. Mulai dari pertanyaan ini, Anggodo mengaku dirinya dan sejumlah rekan serta kerabat merasa takut. Bahkan kalaupun diperlukan, Anggodo bersedia tidur di Mabes Polri atau Kantor Wantimpres.

"Saya minta perlindungan. Bukan saya takut diadili rakyat. Karena saya yakin saya juga rakyat yang butuh keadilan. Selain itu begitu gencarnya rakyat.... Yang saya takutkan itu bukan rakyat, tapi KPK," tutur Anggodo.

Menanggapi hal tersebut, Buyung akhirnya menyampaikan bahwa dalam setiap pemeriksaan Anggodo di Polri ataupun KPK akan ada salah satu anggota Tim Delapan yang mengawasi langsung. Sementara itu, Anggodo mengaku siap menjalani pemeriksaan baik oleh Mabes Polri maupun Tim Delapan. Bahkan, dirinya berani menjamin akan taat hukum kapan saja.

Anggodo adalah tokoh sentral dalam rekaman pembicaraan yang disadap KPK dalam penyelidikan kasus dugaan korupsi pengadaan Sistem Komunikasi Radio Terpadu di Departemen Kehutanan yang diduga melibatkan Anggoro Widjojo, Direktur PT Masaro Radiokom. Percakapan yang dilakukan Anggodo dengan sejumlah orang diduga berisi rekayasa untuk mengkriminalisasi dua pimpinan KPK (nonaktif), Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau