JAKARTA, KOMPAS.com — Salah satu program yang akan menjadi fokus pemerintahan SBY-Boediono dalam 100 hari pertama adalah revitalisasi industri pertahanan. Demikian dinyatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden, Kompleks Istana Negara, Jakarta, Kamis (5/11).
"Lima tahun mendatang akan kita lakukan revitalisasi. Dalam 100 hari harus dibikin rencana induk, master plan, dan roadmap untuk revitalisasi industri strategis," ujar SBY. Revitalisasi ini termasuk menentukan apa yang diproduksi, terutama untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, keperluan pemesanan dari luar negeri, dan kontrak-kontrak yang sedang berjalan. Ia optimistis dengan revitalisasi ini karena industri pertahanan sudah dikembangkan cukup lama. Indonesia telah berinvestasi dalam penguasaan teknologi dan sumber daya manusia yang andal.
Presiden SBY mengatakan, industri pertahanan strategis yang akan dijadikan target, antara lain, industri yang memproduksi senjata, peralatan, dan perlengkapan pertahanan, militer, dan kepolisian. Misalnya, PT PAL di Surabaya, PTDI di Bandung, PT PINDAD di Bandung, dan industri strategis lainnya.
Menurut SBY, industri-industri tersebut sempat tidak mendapat perhatian karena krisis ekonomi. Lima tahun sebelumnya hal ini belum menjadi fokus karena pertumbuhan ekonomi belum cukup baik dan anggaran tidak cukup. Karenanya, dalam 100 hari ke depan akan dipastikan segi pembiayaannya apakah menggunakan sumber dalam negeri, multiyears budgeting, dan menentukan pola fasilitas pembiayaan perbankan dalam negeri.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang