Benar Enggak Sih Antasari Minta Dicium Rani?

Kompas.com - 05/11/2009, 17:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Tak bisa dipungkiri, sosok Rani Juliani menjadi magnet dalam persidangan mantan Ketua KPK Antasari Azhar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (5/11). Antasari sendiri didakwa menjadi perencana pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen, yang juga suami Rani.

Rani dan Antasari menjadi pusat perhatian publik setelah jaksa dalam dakwaannya menyebutkan bahwa mereka melakukan tindakan asusila di dalam kamar 803 Hotel Grand Mahakam, Jakarta Selatan. Pemaparan jaksa tersebut disebarluaskan oleh media sehingga pada sidang kali ini kesaksian Rani tertutup untuk umum. "Wah, kecewa banget. Saya sengaja datang untuk denger Rani bilang apa," kata Merri Astuti, warga Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Merri mengaku penasaran, apakah benar Rani melakukan tindakan asusila dengan Antasari. Apakah itu bukannya perbuatan selingkuh. "Kok dia bisa seperti itu, bener gak sih berselingkuh atau tidak," ujar Merri.

Rasa kecewa dan penasaran juga menarik Mus (57), warga Bekasi Timur, jauh-jauh datang ke PN Jakarta Selatan. Sekalipun kecewa karena tidak bisa mendengarkan suara Rani, ia tetap penasaran terhadap kepastian kabar bahwa Antasari minta dicium setelah dipijat Rani. "Katanya, Antasari minta dipijit, terus membalikkan badan dan minta cium. Pengin tahu bener gak seperti itu," ucap Mus.

Sekalipun demikian, lepas dari apa yang terjadi di dalam ruang sidang, Mus merasa yakin Antasari dan Rani terlibat perbuatan yang intim. "Saya yakin karena hanya berdua dalam (satu) kamar. Bisa jadi kan kalau minta lain-lain," kata Mus.

Mengenai hal yang sebenarnya terjadi dalam kamar tersebut, Rani menjadi kunci. Hal itu sedang dikatakannya dalam sidang tertutup, dan Antasari ada di dalam sebagai terdakwa. Jimmy Simanjuntak meyakinkan bahwa kliennya mengatakan yang sebenarnya. "Apa yang terjadi sebenarnya sedang dikatakan Rani di dalam. Bisa plus atau minus dari apa yang ada dalam dakwaan jaksa," kata Jimmy.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau