TANGERANG, KOMPAS.com — Nurhayati, pembantu rumah tangga yang mengaku diperkosa secara bergiliran oleh dua orang perampok, akhirnya ditetapkan menjadi tersangka. Polisi menduga dia bersama Mail, suaminya, serta adik ipar yang belum diketahui namanya, telah bersama-sama merekayasa aksi perampokan yang disertai pemerkosaan terhadap Nurhayati, Rabu (4/11) siang bolong.
Peningkatan status dari korban menjadi tersangka dikatakan Kepala Kepolisian Resor Metro Tangerang Kabupaten Ajun Komisaris Besar Edi Sumitro Tambunan, Kamis (5/11).
"Saat ini tersangka sudah kami amankan. Namun, kami masih mengejar Mail dan salah satu adik ipar Nurhayati," jelas Tambunan.
Peningkatan status tersebut, kata Tambunan, setelah polisi melakukan olah tempat kejadian perkara. Dari sejumlah saksi yang dimintai keterangan, diperoleh informasi bahwa Nurhayati baru tiga bulan bekerja di rumah itu.
"Berdasarkan keterangan satuan petugas keamanan kompleks perumahan itu diperoleh informasi, saat perampok beraksi tidak ada yang mencurigakan terlihat di rumah itu. Bahkan, petugas keamanan tidak mendengarkan teriakan dari dalam rumah," papar Tambunan.
Dari keterangan yang dihimpun, Tambunan menjelaskan, pihaknya berasumsi bahwa orang yang melakukan aksi itu sudah mengenal rumah tersebut.
Seperti diberitakan, dua perampok telah menyatroni sebuah rumah di Permata Pamulang Blog G17, Pamulang, Kecamatan Ciasuk, Kabupaten Tangerang. Perampok yang berhasil mengambil tiga unit telepon genggam dan sebuah sepeda motor juga memerkosa secara bergiliran pembantu rumah tersebut.
Delapan kali
Dari pengakuan tersangka, kata Tambunan, aksi perampokan dengan modus seperti itu sudah dilakukan komplotan tersebut sebanyak delapan kali. "Semua aksi mereka dilakukan di wilayah Kepolisian Daerah Metro Jaya, termasuk Jakarta dan sekitarnya, seperti Tangerang," ujar Tambunan.
Modus operandi adalah tersangka melamar pekerjaan menjadi pembantu. Setelah bekerja selama tiga bulan, komplotan perampok ini langsung menjalankan aksi mereka.
Mengenai pemerkosaan itu sendiri, kata Tambunan, tidak pernah terjadi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang