JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam bidang perindustrian, pemerintahan SBY-Boediono menjadikan pabrik pupuk dan gula sebagai target utama revitalisasi. Hal tersebut ditegaskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden, Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Kamis (5/11).
"Dalam seratus hari pertama akan kita pastikan bahwa revitalisasi pabrik pupuk dan pabrik gula itu bener-benar dijalankan dengan baik lima tahun mendatang. Termasuk bagaimana dilakukan revitalisasi itu, pembiayaannya, teknologi yang digunakan, cara menghitungnya," ujar Presiden SBY.
Kalau perlu dilakukan penambahan pabrik pupuk, lanjut SBY, juga harus dipikirkan dari mana bit stock-nya, gas dari mana, bahkan di tempat mana kalau harus mengubah batubara menjadi coal bismetan sebagai sumber energi.
"Dengan demikian, harapan kita dikaitkan dengan pertumbuhan pertanian, perkebunan, perswahan, dan keperluan yang lain, maka kapasitas pabrik pupuk harus meningkat produksinya. Dalam seratus hari, harus jadi cetak biru dan program menuju ke situ," jelas SBY.
Presiden SBY melanjutkan pengingkatan kapasitas pabrik gula juga akan dilakukan. Ia mengatakan harga gula di pasar global sangat tinggi dan masih ada kemungkinan meningkat sehingga satu-satunya cara afalah dengan menambah pasokan atau produksi di dalam negeri agar persediaan cukup dan harga terjangkau di masyarakat.
Selain revitalisasi pabrik gula dan pabrik pupuk, SBY juga menekankan revitalisasi industri lainnya. Misalnya, prrogram pembangunan kawasan industri (industrial cluster) yang akan dibangun dalam lima tahun mendatang serta industri pengolahan dan lain-lain.
"Tapi seratus hari saya ingin dua revitalisasi industri itu dilakukan, yaitu industri pupuk dan industri gula," tegas SBY.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang