Berburu Investor di Sektor Infrastruktur

Kompas.com - 06/11/2009, 07:44 WIB

Oleh NELI TRIANA

KOMPAS.com - Kabinet baru telah terbentuk. Program-program kerja mulai diluncurkan setiap menteri. Roda pembangunan di Indonesia dipastikan kembali berdenyut cepat. Investor asing dan dalam negeri bersiap mengucurkan dananya setelah sempat tertahan sejenak memantau kondisi politik.

Pemerintah tidak tinggal diam. Berbagai cara dilakukan agar investor makin banyak tertarik menanamkan uangnya di Indonesia. Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin, Jerman, sebagai perpanjangan tangan pemerintah di luar negeri, turut berinisiatif. Dalam rangkaian Asia Pacific Weeks 2009 di Berlin, 7-18 Oktober, Kedutaan Besar RI di Berlin menyelenggarakan Indonesian Bussiness Day.

Duta Besar RI untuk Republik Federal Jerman Eddy Pratomo membuka langsung acara yang digelar pada 12 Oktober. Eddy mengatakan, Indonesian Bussiness Day (IBD) sengaja diadakan untuk mempertemukan para pemangku kepentingan, yaitu pebisnis, pejabat pemerintah, dan pakar keilmuan dari Jerman maupun Indonesia, untuk bertukar informasi di bidang energi dan mobilitas. Tercatat sekitar 100 peserta aktif mengikuti forum bisnis ini.

”Kesempatan ini sekaligus membuka peluang kerja sama dalam bidang pembangunan sistem transportasi di Indonesia. Di mana pembangunan itu sekaligus menerapkan kebijakan penggunaan energi terbarukan, memaksimalkan potensi kekayaan dalam negeri, serta bisa menjamin kesejahteraan masyarakat kini maupun di masa datang,” kata Eddy, Senin (19/10).

Buku saku How To Do Bussiness In Indonesia turut diluncurkan menandai dimulainya IDB.

Kemudahan berinvestasi

Kepala Divisi Promosi Investasi Badan Koordinator Penanaman Modal RI Darmawan Djajusman hadir sebagai pembicara kunci di IDB. Ia mengatakan, dengan begitu banyak potensi alam maupun jenis kekayaan lain yang dimiliki, Indonesia sebenarnya menarik bagi calon investor.

Indonesia, lanjut Darmawan, juga memiliki catatan positif dalam pertumbuhan ekonomi. GDP 2008 mencapai 6,1 persen. Ditargetkan selama 2004-2009 pertumbuhan investasi mencapai 6,6 persen dengan total nilai 426 triliun dollar AS.

”Sebelumnya banyak kendala untuk berinvestasi di Indonesia. Sekarang kita terapkan kemudahan bagi investor asing, yaitu kesamaan perlakuan dan pelayanan, dilindungi payung hukum khusus, penggunaan lahan, hingga kesempatan menggali keuntungan selama 95 tahun masa kontrak, keimigrasian, dan pengurangan pajak,” kata Darmawan.

Kepala Biro Perencanaan Departemen Perhubungan Santosa Eddy Wibowo memaparkan di hadapan forum bahwa banyak proyek pembangunan infrastruktur transportasi yang sedang giat dilakukan, dalam proses kajian maupun perencanaan di seluruh pelosok Nusantara.

”Yang utama, jelas kami akan mengembangkan transportasi laut. Beberapa pelabuhan menjadi sasaran, seperti di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, dan Papua. Khusus di Sumatera sedang dikaji untuk mengembangkan sistem transportasi kereta api. Saat ini, sebagian infrastruktur masih ada dan difungsikan, tetapi belum menyeluruh. Kemudian proyek serupa di Jawa untuk menambah dan menyempurnakan yang sudah terbangun di seluruh pulau,” kata Santosa.

Pemerintah, lanjutnya, menyediakan Rp 451 triliun untuk dana pengembangan proyek transportasi 2010-2014 dan sisanya sebesar Rp 978 triliun akan dijaring dari para investor.

Sementara itu, di Jakarta, Kepala Biro Penanaman Modal dan Promosi DKI Jakarta Hasan Basri mengatakan, proyek pengembangan infrastruktur yang lebih efektif dan ramah lingkungan juga sedang giat dilakukan.

”Jakarta sedang dalam upaya merealisasikan proyek MRT, pemenuhan lima koridor bus transjakarta lagi, road pricing, hingga penetapan special economic zone,” kata Hasan.

Pembiayaan proyek transportasi publik sekaligus menekan kerusakan lingkungan di Jakarta ini ditanggung oleh pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan tentu saja investor. Terkait dengan MRT, kerja sama telah dijalin dengan Jepang. Hasan menekankan, kerja sama dengan investor lain untuk proyek yang berbeda amat terbuka dan sangat dibutuhkan DKI.

Potensi kawasan

Khusus soal energi terbarukan, Dr Makky S Jaya, ahli geofisika lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya yang melanjutkan studinya di Berlin, menyatakan, posisi Indonesia berada di ring of fire. Pada setiap 100 kilometer setidaknya ada satu-dua gunung berapi yang membuatnya memiliki potensi energi geotermal yang tak terhingga. Pemerintah bekerja sama dengan investor amat mungkin memanfaatkan sumber energi ini.

David Brune, ahli geologi dan geofisika Jerman yang juga mendalami soal energi geotermal, menyatakan, Indonesia memang memiliki segudang potensi. Akan tetapi, harus diingat bahwa negara ini terdiri atas lebih dari 17.000 pulau yang hingga kini pelayanan infrastrukturnya masih morat-marit.

”Bukan industri-industri skala besar yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi setiap kawasan. Cukup membuat pembangkit-pembangkit listrik geotermal kecil sesuai kebutuhan setiap kawasan atau pulau sehingga sama-sama bisa berkembang,” kata David.

Hal senada diungkapkan Prof Dr Rolf W Stuchtey yang berpengalaman lebih dari 18 tahun dalam pengembangan dan manajemen pelabuhan.

Sebuah pesan disampaikan, Indonesia harus mengenal dirinya sendiri untuk bisa menentukan arah pembangunan yang benar. Tidak perlu semua teknologi terbaru diterapkan, tetapi justru harus mengembangkan potensi dalam negeri dan memperbaiki kualitas sumber daya manusia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau