Mata air kering

Rusa dan Babi Hutan Turun ke Ladang Penduduk

Kompas.com - 07/11/2009, 05:38 WIB

Cirebon, Kompas - Rusa dan babi hutan yang tinggal di perbukitan Gunung Tilu, perbatasan Kuningan dan Cirebon, Jawa Barat, serta Brebes, Jawa Tengah, dua pekan ini mulai masuk ke perkampungan dan ladang warga. Keringnya mata air dan menyempitnya daerah jelajah diduga menjadi penyebab turunnya para penghuni hutan itu.

Dua hari lalu, warga melihat rusa di sekitar mata air Jamberancak, Desa Cigobang, Kecamatan Pasaleman, Kabupaten Cirebon. Mata air Jamberancak hanya berjarak sekitar 500 meter dari perumahan penduduk.

Dasrib, warga Sumber Kidul, Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon, yang biasa mengumpulkan kayu di Desa Karoya, Kecamatan Pasaleman, juga melihat rusa berkeliaran di ladang tiga hari lalu. ”Rusanya seukuran domba, punya tiga tanduk,” kata Dasrib, Jumat (6/11).

Sebelumnya, ada babi hutan masuk kampung di Kubangdeleg, Kecamatan Karangwareng, Kabupaten Cirebon. Namun, menurut Masrib, warga setempat, babi hutan itu mati tertabrak kendaraan.

Deddy Madjmoe, Ketua Perkumpulan Pencinta Kelestarian Alam Grage, menyatakan prihatin dengan turunnya satwa dari hutan. Menurut dia, turunnya satwa biasanya menandakan habitat mereka sudah terganggu, misalnya kekeringan, kekurangan makanan, atau sempitnya lingkungan.

Selama ini habitat rusa dan babi hutan mencakup hutan yang terbentang di Pegunungan Tilu di perbatasan Cirebon, Kuningan, dan Brebes. Hutan tersebut bersambung dengan hutan di Gunung Ciremai. Namun, setelah perkampungan dan ladang dibuka di tengahnya, kedua hutan menjadi terpisah.

Beberapa warga menuturkan, pada musim kemarau beberapa tahun terakhir, banyak binatang keluar hutan untuk mencari sumber air dan makanan di ladang dan perkampungan.

Lima tahun lalu, menurut Dasrib, air masih bisa ditemukan di lembah di bawah Desa Karoya. Mata air Caringin di perbatasan hutan juga masih ada.

Namun, kini sudah tidak ada lagi air di lembah itu. Lahan Desa Karoya yang dulunya hutan produksi kini menjadi sentra pertanian tebu. Satu-satunya mata air terdekat adalah Caringin yang berada di pinggir perkebunan tebu. Namun, pada musim kemarau ini, mata air itu kering.

Debit mata air di Jamberancak pun mengecil pada musim kemarau. Namun, menurut Deddy, sejumlah satwa masih terlihat memanfaatkan mata air itu.

Selain perubahan fungsi hutan produksi menjadi lahan, berkurangnya air juga disebabkan oleh penggalian pasir ilegal di Kecamatan Pasaleman. Pada Juni, penambangan ilegal ditertibkan Pemerintah Kabupaten Cirebon. Namun, Jumat, penambangan kembali beroperasi. (NIT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau