KAIRO, KOMPAS.com - Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada pertemuan dengan para pejabat dan tokoh masyarakat Palestina, di Ramallah, Kamis (5/11) malam, kembali menegaskan tidak akan mencalonkan diri lagi sebagai presiden pada pemilu 24 Januari 2010.
Fatah dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) berbeda pendapat soal sikap Abbas. Hamas dan AS memberi isyarat bahwa mereka menghargai keinginan Abbas. Sebagian kalangan di Israel menilai Abbas hanya sedang melakukan taktik.
”Saya sudah menyampaikan kepada teman-teman di PLO dan Fatah, tidak akan mencalonkan lagi sebagai presiden untuk periode kedua,” ujar Abbas. Dia menegaskan keputusan itu bukan sekadar sebuah taktik atau permainan politik.
”Saya menghargai pendapat sebagian teman di PLO dan Fatah. Namun, saya berharap mereka memahami keinginan saya,” tambah Abbas lagi.
Harian berbahasa Arab, Al Hayat, Selasa 27 Oktober, mengungkapkan, Presiden Abbas dalam sidang Komite Sentral PLO pada 24-25 Oktober menyatakan, tidak berniat mencalonkan diri lagi sebagai presiden.
Juru bicara Kepresidenan Palestina, Nabil Abu Rudeinah, kepada televisi Aljazeera mengatakan, dia memahami keinginan Abbas karena buntunya proses perdamaian saat ini.
”Semua upaya menggerakkan proses perdamaian tidak berhasil. Palestina kini tidak memiliki harapan apa-apa lagi, setelah AS tidak berdaya menekan Israel untuk menghentikan pembangunan permukiman Yahudi di wilayah Palestina,” kata Abu Rudeinah.
Sekretaris Komite Eksekutif PLO Yasser Abdu Rabbo menyatakan, PLO percaya Abbas tetap mau jadi presiden.
Salah seorang pejabat Fatah, Azzam Ahmad, menegaskan, Abbas adalah satu-satunya yang mampu memimpin rakyat Palestina untuk mewujudkan berdirinya negara Palestina dengan ibu kota Jerusalem Timur.
Ratusan pemuda Palestina di kota Jenin dan Ramallah meminta Abbas untuk tidak mundur.
Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menegaskan, AS tetap berharap bisa bekerja sama apa pun status Abbas nanti. ”Kami memberi penghormatan besar kepada Abbas atas pengabdiannya terhadap rakyat Palestina. Saya dan utusan khusus AS untuk Timur Tengah, George Mitchell, telah mendiskusikan masa depan perdamaian dan karier politik Abbas,” ujar Hillary.
AS dan Israel selalu menilai Abbas bisa diajak berdiskusi.
”Dikhianati” AS dan Israel
Hamas, musuh Fatah, menganggap sikap Abbas merupakan pengakuan atas kegagalan sekaligus refleksi dari sebuah krisis serius akibat pengkhianatan sekutunya, AS dan Israel.
Jubir Hamas, Fauzi Barhum, menyatakan, sikap Abbas itu tidak mengubah persiapan Hamas soal pemilu. Bahkan sikap Fatah harus berubah demi tercapainya rekonsiliasi dan diakhirinya perpecahan.
Analis politik dari Jordania, Shalah Qallab, dalam artikelnya di harian Asharq al-Awsat mengatakan, AS telah berbuat kesalahan yang membuat Abbas mundur. Menurut dia, AS yang semula menuntut Israel menghentikan semua pembangunan permukiman Yahudi. Ini membuat Abbas ikut bersemangat.
”Kini AS mundur dari tuntutan itu, tetapi Abbas sulit menerima karena bisa dihujat Palestina,” lanjut Qallab.
Analis politik pada harian Israel Haaretz, Aluv Ben, mengatakan, jika Abbas benar-benar mengundurkan diri, justru akan menyulitkan Israel karena tidak akan ada lagi mitra perdamaian yang kuat di pihak Palestina. Kemudian yang tersisa di pentas politik Palestina hanya Hamas. Karena itu, lanjut Ben, Israel harus memikirkan ”penyelamatan” Abbas. (mth)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang