Pengamat: Facebookers Lebih Baik Dibanding DPR

Kompas.com - 08/11/2009, 10:47 WIB

JAKARTA,KOMPAS.com - Pengamat komunikasi politik Effendy Ghazali menilai forum fecebookers pendukung KPK lebih baik dibandingkan dengan anggota DPR dalam menilai kisruh yang terjadi antara KPK dan Polri.

Minggu ( 8/11 ) ribuan facebookers pendukung KPK tumpah ruah di Bundaran HI. Mereka secara langsung menyatakan aspirasinya terhadap kisruh dalam proses hukum yang dilakukan Polri terhadap Pimpinan KPK Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah.

"Yang lebih baik jadi parlemen itu sebenarnya facebookers ketimbang DPR. Terlebih Komisi III yang sama sekali pertanyaannya ketika mengklarifikasi kepada Kapolri, sama sekali tidak mewakili masyarakat," kata Effendy, di Bundaran HI, Minggu ( 8/11 ).

Menurutnya apa yang disampaikan oleh forum tersebut sangat mewakili pendapat masyarakat pada umumnya. "Apa yang disampaikan mereka ini pada dasarnya sederhana. Yakni supaya Polisi itu bersih, Kejaksaan bersih, sehingga rakyat bisa percaya kepada penegak hukum," kata pengajar di Universitas Indonesia ini.

Apa yang dilakukan oleh Polri saat ini, kata Effendi belum memenuhi rasa keadilan masyarakat. Terlebih proses hukum yang dilakukan terhadap Bibit dan Chandra seringkali tidak masuk dalam akal sehat masyarakat. Banyak sangkaan dan tuduhan-tuduhan yang tidak memiliki alasan kuat. "Pada prinsipnya, orang kalau sudah sekali bohong kedepan dan seterusnya akan bohong terus," tandasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau