TEHERAN, KOMPAS.com — Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengambil bagian dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Turki pada Senin (9/11), di tengah tekanan internasional soal program nuklir negara itu.
Lawatan Ahmadinejad ke Turki itu menjadi pusat perhatian internasional setelah Presiden Sudan Omar Al-Bashir membatalkan kehadirannya pada menit terakhir dalam pertemuan puncak para kepala negara dan kepala pemerintahan yang tergabung dalam organisasi beranggotakan 57 negara berpenduduk Islam itu.
Turki menolak seruan internasional untuk menangkap Presiden Bashir, tetapi Sudan mengumumkan pembatalan itu pada Minggu dengan alasan bahwa terdapat perundingan politik penting di dalam negeri.
Kantor berita Sudan, SUNA, melaporkan, Bashir, yang sebelumnya menghadiri pertemuan puncak China-Afrika di Sharm El-Sheikh, Mesir, telah menelepon Presiden Turki Abdullah Gul dan mengatakan bahwa ia tidak bisa menghadiri KTT OKI tersebut.
Pembatalan itu dilakukan di tengah meningkatnya tekanan menyusul desakan Uni Eropa kepada pemerintah Ankara agar melarang atau menangkap pemimpin kepala negara Sudan itu.
Bashir menjadi sasaran surat perintah penangkapan oleh Pengadilan Kejahatan Internasional (ICC) di Den Haag, Belanda, atas tuduhan melakukan kejahatan perang dan melanggar hak asasi manusia di Darfur. ICC mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Presiden Bashir pada 4 Maret silam.
Juru bicara ICC, Laurence Blairon, mengatakan, pengadilan yang bermarkas di Den Haag, surat perintah penangkapan terhadap Bashir berisikan tujuh tuduhan—lima kejahatan atas kemanusiaan dan dua kejahatan perang.
KTT Istanbul, yang memfokuskan pada pengembangan kerja sama perdagangan yang lebih terbuka antarnegara anggota, itu mendorong beberapa kepala negara untuk menghadirinya, antara lain, Presiden Suriah Bashar Al-Assad, Presiden Afganistan Hamid Karzai, dan Perdana Menteri Palestina Salam Fayyad.
Program nuklir Iran merupakan salah satu isu yang didiskusikan dalam pertemuan antara Presiden Ahmadinejad dan Perdana Menteri Turki Recep Tayyip dan Presiden Turki Abdullah Gul setelah pemimpin Iran itu tiba di Turki pada Minggu.
Sementara itu, Ketua Juru Runding Nuklir Iran Saeed Jalili pada Minggu mengatakan, pihaknya ingin mencapai kesepakatan "sesegera mungkin" sesuai rencana dan mengatakan bahwa Teheran mengharapkan melakukan diskusi lebih lanjut.
Namun, surat kabar AS, New York Times, Senin, melaporkan bahwa Iran mengesampingkan usulan AS agar Iran mengirimkan uraniumnya yang belum rampung diproses untuk pemrosesan lebih lanjut di salah satu negara di luar negeri, seperti Turki.
Turki, salah satu negara anggota NATO, dalam beberapa tahun terakhir berusaha membangun hubungan yang lebih erat dengan dunia Islam, termasuk Iran, Sudan, dan Suriah yang selama ini dikenal berlawanan dengan negara-negara Barat.
Dalam kunjungan dua hari itu, selain bertemu dengan para pejabat Turki, Ahmadinejad juga bertemu dengan para pemimpin dunia Islam yang menghadiri KTT OKI tersebut. Selain itu, Ahmadinejad juga akan menggelar konferensi pers dan bertemu dengan para pengusaha Iran di Turki.
Iran dan Turki, yang merupakan dua negara Islam yang secara ideologis berpengaruh di dunia Islam, menjalin hubungan sangat erat antara kedua negara termasuk kerja sama dalam sejumlah proyek penting minyak dan gas.
Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan, dalam kunjungannya ke Teheran dan bertemu dengan Presiden Ahmadinejad, mengatakan, negara-negara yang menentang program atom Iran hendaknya juga menghentikan program senjata nuklir mereka.
Pertemuan ke-25 Komite Kerja Sama Ekonomi dan Perdagangan OKI dijadwalkan itu dilangsungkan di Istanbul selama lima hari pada 5-9 November 2009.