Buyung: Tim Delapan Berharap Presiden Menyimak Temuan Kami

Kompas.com - 09/11/2009, 19:35 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Dalam keterangan pers yang digelar di Kantor Wantimpres, Senin (9/11), Tim Delapan melihat bahwa bukti Polri untuk kasus Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto sangat lemah.

Lazimnya, Kejaksaan Agung yang akan mengeluarkan keputusan P-21 malam ini tidak meneruskannya. Ketua Tim Delapan Adnan Buyung Nasution mengatakan, pihaknya tak ingin mengintervensi keputusan yang akan diambil Kejaksaan Agung. Namun, Adnan mengharapkan Presiden menyimak rekomendasi tim yang dibentuk sendiri oleh Presiden pada Senin lalu.

"Kami berharap temuan kami, kami harap malam ini juga bisa didengar dan disimak oleh Presiden dan berharap dapat dikomunikasikan dengan Jaksa Agung," tutur Buyung.

Keputusan terakhir, ungkap Anggota Wantimpres ini, tentu diserahkan seutuhnya kepada Jaksa Agung sebagai penegak hukum tertinggi yang memiliki wewenang untuk meneruskan kasus ini atau tidak. "Tentu lebih bijaksana kalau beliau memperhatikan apa yang kami rekomendasikan," tandasnya.

Anggota tim lain, Anies Baswedan, juga menyatakan bahwa tim tidak akan mengintervensi proses hukum yang tengah berlangsung. Rekomendasi sementara diserahkan kepada Presiden yang membentuk tim.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau