Ekonomi Bisa Tumbuh Lebih Tinggi

Kompas.com - 10/11/2009, 04:48 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia selama lima tahun ke depan bisa mencapai 6,3-6,8 persen per tahun. Pertumbuhan sebesar itu lebih tinggi dari perkiraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono yang disampaikan saat kampanye sebesar 6-6,5 persen per tahun.

”Itu dimungkinkan karena beberapa waktu terakhir terjadi perbaikan ekonomi global yang memungkinkan ekspor Indonesia tumbuh positif,” ujar Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana di sela-sela Rapat Kerja Penyusunan Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional dan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga Tahun 2010-2014 di Jakarta, Senin (9/11).

Berdasarkan kondisi itu, kata Armida, pada tahun 2014 pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa di atas 7 persen. ”Kami perkirakan pertumbuhan ekonomi kita pada tahun 2014 minimal 7 persen,” katanya.

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi itu, Bappenas memperkirakan anggaran belanja negara dalam APBN periode 2010-2014 akan meningkat rata-rata 7 persen per tahun.

Hal ini dipicu oleh tingginya kebutuhan investasi pemerintah dalam menopang pertumbuhan ekonomi. Atas dasar itu, anggaran belanja negara dalam APBN 2014 diharapkan mencapai Rp 1.700 triliun sehingga target pertumbuhan ekonomi 7 persen bisa dicapai.

”Saat ini anggaran belanja negara di APBN sudah Rp 1.000 triliun lebih. Jika pertumbuhan belanja 7 persen, akhir tahun 2014 belanja negara sudah akan mencapai Rp 1.700 triliun,” ujar Sekretaris Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Syahrial Loetan.

Kebutuhan investasi

Menurut Syahrial, dengan anggaran belanja negara sebesar itu, pemerintah belum mampu menutup semua kebutuhan investasi yang diperlukan dalam mendorong perekonomian tumbuh 7 persen pada 2014. Hal tersebut disebabkan sebagian dari anggaran belanja itu digunakan untuk kebutuhan di luar investasi, seperti pembayaran gaji pegawai.

Total kebutuhan investasi untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi 7 persen adalah Rp 2.000 triliun hingga Rp 2.100 triliun per tahun.

”Sebesar 82-83 persen dari kebutuhan investasi itu harus dipasok oleh swasta, sedangkan pemerintah hanya bisa menutup sekitar 15 persennya. Atas dasar itu, sangat penting artinya agar iklim investasi dan kepastian usaha bisa membuat pelaku usaha terus menanamkan modalnya di Indonesia,” ungkapnya.

Ekonom Sustainable Development Indonesia, Dradjad H Wibowo, mengatakan, jika kenaikan nominal anggaran belanja negara mencapai 7 persen, sementara inflasinya juga pada level yang sama, belanja negara tidak meningkat secara riil karena tergerus kenaikan harga.

Namun, kenaikan anggaran belanja riil diperkirakan 1-2 persen setahun karena laju inflasinya diperhitungkan akan ada pada level 5-6 persen setiap tahun. (REI/OIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau