Pertumbuhan Ekonomi DIY 5,88 Persen

Kompas.com - 10/11/2009, 20:44 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Pertumbuhan ekonomi Provinsi DI Yogyakarta pada triwulan ketiga tahun 2009 mencapai 5,88 persen. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh peningkatan produksi di sektor pertanian.

Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DIY Andy Suwandy , Selasa (10/11) menuturkan, angka 5,88 p ersen tersebut menunjukkan peningkatan produk domestik regional bruto (PDRB) dari triwulan kedua 2009 ke triwulan ke tiga 2009. Bila dibandingkan dengan triwulan ketiga tahun 2008, PDRB pada triwulan ketiga tahun 2009 juga meningkat sebesar 1,91 persen.

Menurut dia, hampir semua sektor lapangan usaha memberi andil dalam pertumbuhan tersebut. Sumbangan terbesar berasal dari sektor pertani an yang pertumbuhannya mencapai 21,78 persen atau memberi andil positif sebesar 3,27 persen terhadap PDRB triwulan ketiga.

"Pertumbuhan di sektor pertanian itu antara lain didorong oleh peningkatan produksi tanaman pangan dan komoditas perkebunan. Karena faktor cuaca, produksi padi memang tidak setinggi triwulan pertama. Namun pada triwulan ketiga ini ada panen ubi kayu terutama di Gunung Kidul, tembakau di Sleman serta tebu di Bantul," katanya.

Selain sektor pertanian, lanjut Andy, sektor konstruksi, perd agangan, hotel serta restoran juga memberi andil cukup besar pada PDRB triwulan ketiga. Realisasi proyek pembangunan prasarana fisik oleh pemerintah mulai marak sehingga sektor konstruksi tumbuh 18,73 persen.

Adapun sektor perdagangan, hotel dan restoran tumbuh sebesar 5,99 persen. Pertumbuhan itu terutama didorong masa libur panjang sekolah d an libur hari raya Idul Fitri. Kunjungan wisatawan meningkat sehingga mempengaruhi tingkat hunian hotel. Selama triwulan ketiga, belanja masyarakat untuk menyambut tahun ajaran, bulan ramadhan hingga hari raya Idul Fitri juga meningkat.

Secara terpisah, Dosen Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang juga peneliti di Pusat Studi Ekonomi Kerakyata Universitas Gadjah Mada Hudiyanto mengatakan, pertumbuhan ekonomi merupakan gambaran kondisi perekonomian secara global. Angka pertumbuhan belum tentu mencerminkan kondisi riil di lapangan. Untuk itu, pemerintah mestinya tidak hanya melihat angka pertumbuhan ekonomi sebagai indikator keberhasilan pembangunan.

"Pertanyaannya adalah, sejauh mana angka pertumbuhan itu mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. Kalau sektor perdagangan tumbuh, misalnya, harus dilihat pelaku di sektor tersebut. Apakah pertumbuhan itu terjadi di pasar moderen ataukah yang tradisional. Sebab pertumbuhan di dua pasar tersebut akan memiliki dampak yang berbeda di masyarakat," jelasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau