YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Pertumbuhan ekonomi Provinsi DI Yogyakarta pada triwulan ketiga tahun 2009 mencapai 5,88 persen. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh peningkatan produksi di sektor pertanian.
Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DIY Andy Suwandy , Selasa (10/11) menuturkan, angka 5,88 p ersen tersebut menunjukkan peningkatan produk domestik regional bruto (PDRB) dari triwulan kedua 2009 ke triwulan ke tiga 2009. Bila dibandingkan dengan triwulan ketiga tahun 2008, PDRB pada triwulan ketiga tahun 2009 juga meningkat sebesar 1,91 persen.
Menurut dia, hampir semua sektor lapangan usaha memberi andil dalam pertumbuhan tersebut. Sumbangan terbesar berasal dari sektor pertani an yang pertumbuhannya mencapai 21,78 persen atau memberi andil positif sebesar 3,27 persen terhadap PDRB triwulan ketiga.
"Pertumbuhan di sektor pertanian itu antara lain didorong oleh peningkatan produksi tanaman pangan dan komoditas perkebunan. Karena faktor cuaca, produksi padi memang tidak setinggi triwulan pertama. Namun pada triwulan ketiga ini ada panen ubi kayu terutama di Gunung Kidul, tembakau di Sleman serta tebu di Bantul," katanya.
Selain sektor pertanian, lanjut Andy, sektor konstruksi, perd agangan, hotel serta restoran juga memberi andil cukup besar pada PDRB triwulan ketiga. Realisasi proyek pembangunan prasarana fisik oleh pemerintah mulai marak sehingga sektor konstruksi tumbuh 18,73 persen.
Adapun sektor perdagangan, hotel dan restoran tumbuh sebesar 5,99 persen. Pertumbuhan itu terutama didorong masa libur panjang sekolah d an libur hari raya Idul Fitri. Kunjungan wisatawan meningkat sehingga mempengaruhi tingkat hunian hotel. Selama triwulan ketiga, belanja masyarakat untuk menyambut tahun ajaran, bulan ramadhan hingga hari raya Idul Fitri juga meningkat.
Secara terpisah, Dosen Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang juga peneliti di Pusat Studi Ekonomi Kerakyata Universitas Gadjah Mada Hudiyanto mengatakan, pertumbuhan ekonomi merupakan gambaran kondisi perekonomian secara global. Angka pertumbuhan belum tentu mencerminkan kondisi riil di lapangan. Untuk itu, pemerintah mestinya tidak hanya melihat angka pertumbuhan ekonomi sebagai indikator keberhasilan pembangunan.
"Pertanyaannya adalah, sejauh mana angka pertumbuhan itu mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. Kalau sektor perdagangan tumbuh, misalnya, harus dilihat pelaku di sektor tersebut. Apakah pertumbuhan itu terjadi di pasar moderen ataukah yang tradisional. Sebab pertumbuhan di dua pasar tersebut akan memiliki dampak yang berbeda di masyarakat," jelasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang