JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia punya seniman yang mendapat kehormatan sebagai salah satu seniman terbaik Indonesia abad ke-20, yaitu Abdul Aziz (1928-2002). Karena pernah dapat beasiswa studi di Italia, Institut Kebudayaan Italia di Jalan HOS Cokroaminoto 117, Menteng, Jakarta, mulai Sabtu (14/11) pukul 12.00 WIB, menggelar pameran lukisan-lukisannya bertajuk "Pendidikan Seorang Seniman".
Juru bicara Pusat Kebudayaan Italia, Dian, mengatakan, pameran digelar dalam rangka kunjungan Wakil Menteri Luar Negeri Italia Stefania Craxi ke Indonesia. Pameran digelar bersama Kedutaan Besar Italia dan Institut Kebudayaan Italia.
"Pameran ini terfokus pada masa yang dihabiskan oleh Abdul Aziz muda di Italia, saat mengeyam pendidikan di Accademia di Belle Arti yang terkenal, dan juga lukisan-lukisan serta sketsa yang belum pernah dipamerkan sebelumnya," kata Dian, Rabu di Jakarta.
Pameran ini akan menjadi pameran kedua Abdul Aziz, setelah pameran Abdul Aziz Retrospective yang diadakan di Neka Art Museum di Ubud, Bali pada bulan Desember 2007 hingga Januari 2008. Dian menjelaskan, sebelumnya hanya ada sebuah pameran dari karya-karyanya, walaupun Abdul Aziz adalah salah satu seniman Indonesia yang paling dicintai di abad ke-20.
"Beliau bukanlah orang yang ambisisus akan ketenaran dan keberuntungan, ia lebih memilih menghabiskan waktunya di rumah dan bermain musik bersama teman-temannya atau berkonsentrasi untuk membuat biola kesayangannya," ujarnya.
Abdul Aziz (1928 - 2002) mendapat kehormatan sebagai salah satu seniman terbaik Indonesia abad ke-20. Lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, ia bersekolah dibawah penjajahan Belanda lalu Jepang, sebelum masuk Tentara Pelajar untuk memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia.
Setelah Indonesia merdeka, ia tinggal di Yogyakarta. Di sanalah ia belajar, pada awalnya, SosPol, sesuai keinginan ayahnya, sebelum akhirnya ia mendapat restu keluarganya untuk menempuh pendidikan di ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) dari tahun 1957-1959. Pada saat yang bersamaan, sebagai patriot muda yang idealis dan terpelajar, ia juga mengajar di beberapa sekolah di penjuru Yogyakarta.
Pada tahun 1959 datanglah sebuah kesempatan yang diimpi-impikannya, yaitu saat ia mendapatkan beasiswa ke Italia, untuk menyelesaikan studinya di Akademi Seni Rupa (Accademia delle Belle Arti) di Roma, salah satu sekolah seni yang ternama. Di sanalah ia belajar teknik dan gaya seni yang membantunya untuk meraih mimpi dalam hidupnya, yaitu membuat lukisan keluar dari bingkai, sebuah ciri khas yang membuatnya terkenal.
Setelah lulus pada tahun 1964, Abdul Aziz sempat bekerja selama setahun di Kedutaan Besar Indonesia di Roma, sebelum ia kembali ke Indonesia dengan menggunakan kapal. Ia pun tiba di Jakarta, di tengah-tengah kekacauan yang terjadi pada akhir tahun 1965 dan memutuskan untuk menetap dan mengajar di Bali. Ia sempat mengajar di Akademi Seni Rupa di Denpasar Bali selama 12 tahun. Ia mengubah studionya di Ubud dan mengundang murid-muridnya untuk belajar teknik-teknik yang dipelajarinya selama di Italia.
Pada tahun 1983 seorang pengunjung wanita yang berasal dari Inggris, Mary Northmore, sangatlah terkesan akan karya-karya Abdul Aziz yang ia lihat di Neka Art Museum di Ubud, sejak saat itulah ia berteman dengan Abdul Aziz. Lima tahun kemudian mereka menikah dan pada tahun 1991 Mary mendirikan Seniwati Gallery of Art by Women, yang berawal dari studio Aziz di Ubud.
Itu adalah galeri pertama yang didedikasikan untuk seniman-seniman perempuan di Asia dan terus mendukung dan mempromosikan seniman perempuan di Bali. Sepeninggalnya Abdul Aziz pada tahun 2002, Mary mulai mengerjakan bukunya: Abdul Aziz: The Artist and His Art yang dipublikasikan pada tahun 2005.
Lukisan Abdul Aziz mudah dikenali karena keahliannya dalam anatomi, chiaroscuro dan ekspresi yang dikombinasikan sedemikian rupa hingga menciptakan ilusi tiga-dimensi. Pengaruh dari seniman-seniman besar Eropa seperti Rembrandt, Tintoretto dan Caravaggio dapat ditemukan pada oeuvre-nya.
"Kecintaannya terhadap perempuan dan anak-anak terpancar dalam karya-karyanya, dan kehidupannya y ang menyenangkan di Bali adalah sumber inspirasi yang tak ada habisnya bagi Abdul Aziz," papar Dian.
Abdul Aziz menyimpan banyak memorabilia, sketsa dan foto-foto sepanjang hidupnya, dan beberapa darinya dapat juga dinikmati pada pameran yang akan digelar. Selama pameran akan dijual buku Abdul Aziz : The Artist and his Art.
Akan diadakan pameran yang dipandu secara gratis untuk grup 10-15 orang. Apabila Anda tertarik silahkan hubungi Ibu Yanti di nomor 0811 6979 684. Pameran akan berlangsung sampai tanggal 5 Desember. Terbuka tiap hari, Senin-Jumat 9.00-17.00, Sabtu 9.00-13.00 WIB.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang