Jemaah Perlu Waspada

Kompas.com - 12/11/2009, 05:07 WIB

JAKARTA, KOMPAS. com - Jemaah haji asal Indonesia diminta lebih waspada dan berhati-hati menyusul banyaknya kasus kriminalitas yang terjadi di Mekkah, Arab Saudi. Selain itu, jemaah diimbau untuk mematuhi jadwal yang telah ditetapkan panitia penyelenggara ibadah haji.

Permintaan agar jemaah haji lebih waspada itu disampaikan Kepala Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Daerah Kerja Mekkah Subakin Abdul Muthalib saat dihubungi, Rabu (11/11). Menurut dia, sudah sekitar 10 kasus kriminalitas menimpa jemaah haji Indonesia di Masjidil Haram.

Kasus kriminalitas itu antara lain perampasan dan penipuan. Kejahatan biasanya dilakukan dengan modus menawarkan jasa penitipan barang, tetapi kemudian barang milik jemaah dibawa kabur.

Modus lain adalah dengan menawarkan jasa mencium Hajar Aswad. Jemaah biasanya diminta membayar hingga ratusan riyal. Ada pula penipu yang merampas uang milik jemaah setelah menawarkan jasa.

Jemaah haji juga diminta tidak membawa barang berharga, terutama perhiasan berlebihan, saat beribadah di Masjidil Haram. Akan lebih baik apabila barang berharga itu dititipkan di tempat penitipan yang biasanya disediakan di pemondokan.

Bukan hanya itu, jemaah haji juga diingatkan untuk lebih tertib menaati jadwal yang ditetapkan panitia penyelenggara ibadah haji, terutama jadwal keberangkatan bus. Pasalnya, menurut Sekretaris Direktorat Jenderal Penyelenggara Haji dan Umrah Departemen Agama A Ghofur Djawahir, ketidaktaatan jemaah menjadi salah satu hambatan pelayanan transportasi.

Jemaah diminta bersiap-siap minimal satu jam sebelum jadwal keberangkatan bus. Mereka juga diimbau lebih mementingkan beribadah daripada berjalan-jalan. Hambatan lain adalah kondisi Mekkah yang mulai padat.

Bus ditambah

Selain itu, Departemen Agama mengakui jumlah bus pengangkut jemaah di Arab Saudi masih kurang. Saat ini baru 315 bus yang disediakan untuk mengangkut 191.000 orang. ”Hasil rapat dengan tim dari Dewan Perwakilan Rakyat memang diakui bahwa jumlah bus masih kurang,” tutur Ghofur.

Departemen Agama akan menambah bus pengangkut jemaah. Sampai kemarin belum ditetapkan jumlah bus yang akan ditambah karena panitia masih menghitung agar biaya sewa bus tak melampaui plafon anggaran.

Sementara itu, Menteri Agama Suryadharma Ali menegaskan, pemerintah tetap akan bertanggung jawab atas jemaah haji nonkuota meski mereka dinilai menyimpang dari prosedur yang seharusnya.

”Jemaah nonkuota mendapatkan visa sendiri dari Kedutaan Besar Arab Saudi sehingga sulit dikontrol dan tidak diketahui apakah transportasi, makan, dan pemondokan mereka terjamin,” kata Suryadharma saat menghadiri pengukuhan KH Ali Maschan Moesa sebagai guru besar luar biasa IAIN Sunan Ampel, Surabaya, Rabu. (NTA/INA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau