SINGAPURA, KOMPAS.com ”Kami masih dalam posisi yang tepat dan wajar terkait dengan dampak krisis keuangan tahun 2008. Kami tetap akan berhati-hati dan mengawasi pergerakannya karena pergerakan rupiah tidak terpisahkan dari apa yang terjadi pada nilai tukar regional. Rupiah juga terkena dampak oleh setiap kebijakan yang dibuat setiap bank sentral di AS dan China,” ungkap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Singapura, Rabu (11/11). Menurut dia, dengan menggunakan rezim devisa mengambang, pemerintah hanya mampu membuat penyesuaian agar pergerakan rupiah tidak berlebihan. Kurs tengah saat ini Rp 9.420 per dollar AS. ”Kami akan membuat pergerakan nilai tukar ini lebih landai, apalagi pemulihan ekonomi masih tahap awal. Ini pergerakan jangka menengah ketimbang mingguan atau harian,” ujarnya. Sri Mulyani mengatakan, masalah nilai tukar dollar AS terhadap yuan menjadi perdebatan hangat menkeu negara anggota APEC di Singapura sebab banyak negara yang terkena dampaknya. Atas dasar itu, setiap negara perlu penyesuaian atas perubahan posisi dollar AS saat ini. Jika dollar AS melemah, itu refleksi dari fundamental ekonominya. Sebaliknya, sejak krisis moneter melanda Asia tahun 1997, nilai tukar yuan menunjukkan kekuatan stabilitasnya hingga saat ini. Kondisi yuan itu ikut menolong negara-negara Asia untuk keluar dari krisis saat itu. ”Namun, kondisinya sudah jauh berbeda. Baik AS maupun China harus menyepakati desain baru untuk menyesuaikan diri pada perubahan nilai tukar dollar AS dan yuan. Ini butuh kerja sama agar tidak merusak upaya pemulihan ekonomi global. Diskusi atas desain baru itu tidak hanya dibicarakan oleh AS dan China, tetapi oleh seluruh dunia,” ujar Sri Mulyani.