Pergerakan Rupiah Wajar

Kompas.com - 12/11/2009, 06:41 WIB

SINGAPURA, KOMPAS.com - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS saat ini dinilai masih pergerakan yang wajar, sebagai salah satu dampak yang tersisa setelah Indonesia didera krisis keuangan global sejak akhir tahun 2008. Karena nilai rupiah diperkirakan masih akan terus terkena dampak pergerakan dollar AS terhadap yuan China dalam hitungan jangka menengah, bukan pada hitungan hari.

”Kami masih dalam posisi yang tepat dan wajar terkait dengan dampak krisis keuangan tahun 2008. Kami tetap akan berhati-hati dan mengawasi pergerakannya karena pergerakan rupiah tidak terpisahkan dari apa yang terjadi pada nilai tukar regional. Rupiah juga terkena dampak oleh setiap kebijakan yang dibuat setiap bank sentral di AS dan China,” ungkap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Singapura, Rabu (11/11).

Menurut dia, dengan menggunakan rezim devisa mengambang, pemerintah hanya mampu membuat penyesuaian agar pergerakan rupiah tidak berlebihan. Kurs tengah saat ini Rp 9.420 per dollar AS. ”Kami akan membuat pergerakan nilai tukar ini lebih landai, apalagi pemulihan ekonomi masih tahap awal. Ini pergerakan jangka menengah ketimbang mingguan atau harian,” ujarnya.

Sri Mulyani mengatakan, masalah nilai tukar dollar AS terhadap yuan menjadi perdebatan hangat menkeu negara anggota APEC di Singapura sebab banyak negara yang terkena dampaknya. Atas dasar itu, setiap negara perlu penyesuaian atas perubahan posisi dollar AS saat ini. Jika dollar AS melemah, itu refleksi dari fundamental ekonominya.

Sebaliknya, sejak krisis moneter melanda Asia tahun 1997, nilai tukar yuan menunjukkan kekuatan stabilitasnya hingga saat ini. Kondisi yuan itu ikut menolong negara-negara Asia untuk keluar dari krisis saat itu.

”Namun, kondisinya sudah jauh berbeda. Baik AS maupun China harus menyepakati desain baru untuk menyesuaikan diri pada perubahan nilai tukar dollar AS dan yuan. Ini butuh kerja sama agar tidak merusak upaya pemulihan ekonomi global. Diskusi atas desain baru itu tidak hanya dibicarakan oleh AS dan China, tetapi oleh seluruh dunia,” ujar Sri Mulyani. (OIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau