Mengungsi karena Banjir

Kompas.com - 12/11/2009, 07:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Puluhan rumah di RT 09 dan 11 di RW 01 Kelurahan Duren Sawit, Jakarta Timur, Rabu (11/11), terendam hingga sepinggang orang dewasa setelah hujan lebat turun sejak Selasa malam. Genangan air itu diduga akibat resapan air berupa empang di kawasan itu diuruk.

Akibatnya, pada Selasa malam itu, warga pun mengungsi ke Kantor Kelurahan Duren Sawit yang berjarak sekitar 300 meter. Hingga Rabu pukul 16.00, air masih setinggi 20-25 sentimeter.

Rohati (45), warga RT 9 RW 1, yang ditemui kemarin mengatakan, warga mulai mengungsi ke kantor kelurahan mulai pukul 18.00. ”Ada 50 kepala keluarga (KK) yang mengungsi ke kantor kelurahan. Barang-barang saya sebagian masih di sana,” ucapnya.

Kemarin, rumah Rohati tampak masih terendam air setinggi 20 sentimeter. Belasan rumah lainnya juga terendam. Beberapa penghuni rumah tampak menguras air yang menggenangi ruang tamu. Belasan perabot rumah tangga dikeluarkan untuk dijemur.

Edy Siswoyo (51), warga lainnya, mengatakan, total rumah yang terendam mencapai 60 rumah. Menurut dia, baru kali ini rumah warga terendam hingga sepinggang orang dewasa setelah hujan lebat selama satu jam.

”Ini gara-gara empang kolam pemancingan ikan seluas 3.000 meter persegi diuruk,” ujar Edy. Karena diuruk, tempat pembuangan air pun hilang. Air tak bisa lagi mengalir ke empang itu. Maka, ketika hujan lebat, air pun langsung ke permukiman penduduk.

Menurut Edy, sebenarnya warga pernah urunan Rp 10.000 setiap KK untuk membuat saluran pembuangan ke kanal banjir timur (KBT). ”Warga sudah tiga kali membuat saluran pembuangan, tetapi tiga kali pula si penguruk tanah menimbun saluran,” tutur Edy.

Ia mengatakan, baru Rabu pagi kemarin backhoe milik pengelola KBT membuatkan saluran air langsung ke KBT. Namun, saluran pembuangan itu belum membuat genangan air hilang.

Lurah Duren Sawit Yogi Metro Peni yang ditemui di kantor kelurahan kemarin menjelaskan, empang memang diuruk oleh pemiliknya sendiri.

”Karena ini bukan soal tanah negara, saya tidak mau ikut campur persoalan yang terjadi antara warga sekitar dan pemilik tanah. Yang saya lakukan selama ini adalah memediasi masalah yang timbul di antara mereka,” papar Peni.

Sejumlah warga yang ditemui mengaku, rumah mereka memang berada di atas tanah yang bukan miliknya. Menurut Peni, pihaknya tidak keberatan kantor kelurahan dijadikan tempat warga mengungsi. ”Silakan saja. Saya terbuka. Namun, mesti tertib dan tidak mengganggu tugas rutin kami di kelurahan,” katanya.

Persiapan banjir

Di tempat lain, Wakil Wali Kota Jakarta Timur (Jaktim) Asep Syarifudin kepada wartawan menjelaskan, menghadapi kemungkinan banjir, pihaknya telah menyiapkan 29 perahu karet, 130 mobil, dan 61 sepeda motor. ”Saya telah memeriksa kelayakan seluruh perangkat banjir,” ucapnya. Asep menambahkan, masih sekitar 5 persen dari total mobil dan sepeda motor dinas yang harus diperbaiki.

Titik banjir terbesar di Jaktim berada di Kampung Melayu dan Cawang. Di Jakarta Selatan, titik banjir berada di Bukit Duri, Bintaro, Pondok Karya, dan Petukangan Selatan. Di Jakarta Barat, titik banjir di Rawa Buaya, Kapuk, dan Tegal Alur, sedangkan di Jakarta Utara berada di Sunter Agung, Penjaringan, Rawa Badak, Koja, dan Kapuk Muara. (WIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau