Sering Belanja Terlalu Banyak? Jangan Salahkan Kartu Kredit

Kompas.com - 12/11/2009, 11:29 WIB

KOMPAS.com - Wanita dan belanja sulit sekali dipisahkan. Wanita butuh aktivitas berbelanja untuk memuaskan hatinya. Sayangnya, saat berbelanja, wanita cenderung termotivasi oleh perasaan keinginan ketimbang perhitungan. Hingga terkadang pemasukan dan pengeluaran tidak seimbang. Hingga akhirnya hutang-hutang pun menggunung.

Kejadian gali lubang-tutup lubang kerap kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Tak jarang kita akan mengatakan penyebabnya adalah karena godaan penawaran dari kartu kredit. Padahal penyebab mendasarnya justru bersenbunyi di dalam kepala kita. Ternyata, saat kita sedang berbelanja dan tergoda untuk membeli sesuatu, misalnya tas cantik yang harganya cukup mahal, otak Anda melepaskan dopamin. Dopamin merupakan zat kimia yang membantu otak memproduksi perasaan menyenangkan. Dopamin merupakan zat yang juga mengalir di otak Anda usai melakukan hubungan seksual, atau sesudah makan kue cokelat yang rasanya enak sekali.Sementara, saat menabung, bagi sebagian besar orang, otak tidak memproses zat dopamin tadi.

Supaya tidak terjebak masalah keuangan lagi, da beberapa langkah yang bisa Anda coba untuk lakukan, yakni;

Persulit kegiatan berbelanja. Pertama, hapus link belanja online dari komputer. Lalu, buanglah katalog-katalog belanja yang ada di rumah. Jika sempat, hubungi nomor telepon pengirim katalog itu untuk menghapus data Anda dari daftar mereka.

Singkirkan kartu lain. Rata-rata orang memiliki 2 kartu kredit. Berapa banyak pun kartu kredit yang Anda miliki di dalam laci, ingatkan diri Anda, bahwa yang Anda perlukan hanya 1 kartu kredit. Sisanya? Simpan saja di laci yang aman, atau sekalian minta penerbit kartu untuk menon-aktifkan kartu Anda. Bukan hanya kartu kredit yang bisa menjadi “penggoda” untuk berbelanja. Kartu keanggotaan sebuah merchant juga bisa menimbulkan keinginan untuk berbelanja. Semakin jarang Anda lihat kartu-kartu keanggotaan sebuah toko atau department store, makin sulit Anda untuk tergoda.

Ubah kebiasaan sehari-hari. Pikirkan rute Anda sehari-hari. Apakah perjalanan Anda ke kantor penuh dengan godaan? Misal, kopi latte dari warung kopi tertentu adalah kelemahan Anda, sehingga setiap harinya Anda menempuh jalan yang melewati warung kopi tersebut. Supaya tak harus mengeluarkan uang rata-rata Rp 35.000 per hari untuk membeli kopi itu, ubahlah rute perjalanan Anda, atau ubah kebiasaan meminum kopi dengan minum minuman lain buatan sendiri (yang jauh lebih murah). Atau jika kelemahan Anda adalah fashion, hindari godaan untuk sekadar melirik ke butik di akhir pekan.

Kurangi camilan. Coba lihat isi lemari es Anda, apakah banyak camilan tak sehat? Jika ya, sudah saatnya beralih untuk menyamik makanan yang sehat. Misal, wortel kecil atau kacang-kacangan. Masukkan ke dalam kantung-kantung kecil untuk camilan sehari, dengan begini, selain lebih sehat, Anda juga lebih hemat. Mau lebih hemat lagi? Mulailah menyusun menu makanan untuk seminggu. Bawalah bekal setiap hari Anda ke kantor.

Langkah selanjutnya:
Uang tunai. Lebih sulit membelanjakan uang dalam kondisi fisik ketimbang berbelanja menggunakan kartu kredit atau kartu debet. Cobalah untuk membagi uang per hari dalam jumlah secukupnya. Dengan begini, Anda akan semakin merasa sulit untuk berbelanja barang-barang yang tak terlalu Anda butuhkan.  

Sumber dopamin lain. Agar tidak tergoda untuk bisa merasakan kembali aliran dopamin dari berbelanja, cobalah alihkan keinginan ke hal-hal lain. Misal, mengikuti kelas-kelas yang menarik untuk Anda tapi belum pernah dicoba, contoh; kelas Pilates atau kelas tari. Atau, jika sewaktu-waktu Anda merasakan dorongan untuk berbelanja, lebih baik Anda menonton video-video lucu di internet, lebih menghibur dan tak mengeluarkan biaya mahal.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau