Pembelajaran Antikorupsi, Mulailah dari Kantin Kejujuran....

Kompas.com - 12/11/2009, 15:26 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Gerakan anti korupsi tidak hanya dilakukan di jalan-jalan dalam bentuk demo, tetapi juga bisa dilakukan di lingkungan sekolah. Sebut saja kantin, misalnya.

Membangun karakter anti korupsi dari ranah pendidikan sendiri adalah cara yang ampuh membentuk negara yang bersih di masa depan. Pelajar, sebagai calon pemimpin bangsa, diharapkan berada jauh dari korupsi, serta tidak mengulangi kesalahan-kesalahan para pemimpin bangsa saat ini.

Berdiri sejak 2004 lalu, Kantin Bersih Transparan Profesional (BTP) SMAN 13, Koja, Jakarta, merupakan pemrakarsa lahirnya "kantin kejujuran" di sekolah-sekolah lain di Indonesia. Kantin tersebut lahir sebagai wadah pembelajaran kepada pelajar untuk menanamkan sikap anti korupsi sejak masih duduk di bangku sekolah.

Konsep dari Kantin BTP sebagai kantin kejujuran di SMAN 13 Jakarta sendiri merupakan sebuah kantin, tempat siswa membeli dan membayarkan sendiri uangnya di tempat yang telah disediakan tanpa penjagaan dan pengawasan sama sekali. Dengan demikian, mereka dilatih untuk jujur terhadap jumlah uang yang mereka bayar dan uang kembali yang mereka ambil. Semua proses jual beli di kantin itu mereka sendiri yang mengurusnya.

Saat ini, kantin kejujuran telah mendapat perhatian besar dari KPK sebagai salah satu pendidikan antikorupsi di sekolah-sekolah. “Kami memulainya dari mahasiswa-mahasiswa dan mereka yang menurunkannya ke sekolah-sekolah,” ungkap anggota fungsional KPK Yudi Purnomo, Kamis (12/11).

Peran pentingnya penegakan antikorupsi memang harus diupayakan dari pendidikan terlebih dahulu. Penanaman tersebut akan melekat kuat pada jiwa anak untuk bersikap jujur, terutama kepada diri mereka sendiri, kata Yudi.

Yudi juga mengatakan, saat ini kantin kejujuran telah menyebar di wilayah-wilayah lain seperti Aceh, Riau, Semarang, Bandung, Medan, dan Pekanbaru. “Di Jakarta sendiri saat ini sudah banyak sekolah yang mempunyai kantin kejujuran,” jelasnya.

Walau keberadaanya tidak diawasi sama sekali, kantin BTP tidak pernah merugi. “Kantin ini sudah berjalan dari 2004 dan alhamdulilah tidak pernah bangkrut,” jelas Humas SMAN 13 Retno Listyarti di sela acara "Gerakan 1000 Tanda Tangan Mendukung Pemberantasan Antikorupsi", di SMAN 13, Jakarta, Kamis (12/11).

Di SMAN 13 Jakarta sendiri pengelolaan kantin antikorupsi dilakukan oleh pengurus ekstrakulikuler Koperasi Siswa. Mereka yang setiap seminggu sekali membelanjakan segala kebutuhan kantin.

Sikap saling serang antar lembaga penegak hukum menimbulkan keprihatinan masyarakat. Sebaliknya, kantin kejujuran saat ini merupakan langkah konkrit untuk menanamkan kejujuran sebagai salah satu proses pembelajaran.

Pembina Kantin BTP SMAN 13 Jakarta Taslim menambahkan, pada minggu ketiga bulan November nanti Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah akan mengadakan observasi dan evaluasi pembelajaran pendidikan anti korupsi di tempat tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau