BANDUNG, KOMPAS.com — Korban tewas akibat pengobatan massal kaki gajah di Kabupaten Bandung terus bertambah. Saat ini, tercatat sudah 9 orang meninggal dunia sejak pengobatan massal digelar dua hari lalu.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, jumlah korban meningkat dari 264 orang menjadi 579 orang. Mereka mengalami mual, pusing, dan kejang-kejang.
Sementara itu, jumlah warga meninggal menjadi sembilan orang, sebanyak empat orang di antaranya adalah warga asal Kecamatan Banjaran, yakni Toto (69), Nandang (47), Lilis (52), dan Omay (54).
Adapun lima orang lainnya warga asal Kecamatan Majalaya, Cileunyi, Bojongsoang, Soreang, dan Kecamatan Katapang, yaitu Dabu (5), Nonoh (40), Ahmad Yunan (46), Apeng (40), dan Arif (14).
Kepala IGD RSUD Majalaya Rustam membenarkan bahwa rata-rata pasien yang mengalami gejala mual dan muntah akibat mengonsumsi obat pencegah filariasis.
"Mereka yang datang mengeluhkan keluhan yang sama seusai mengonsumsi obat. Saat ini kami menyiagakan 10 dokter dan 20 perawat untuk penanganan, seperti pemberian obat dan proses infus kepada pasien," ujar Rustam.
Terkait korban meninggal, Ismet Ismail Suni, dokter yang ikut menangani pasien, mengatakan belum berani mengambil kesimpulan korban meninggal akibat minum obat filariasis. "Perlu dilakukan uji laboratorium dan visum untuk membuktikannya," ujar Ismet.
Suhardiman selaku Kepala Subdinas Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung menjamin, meninggalnya sembilan warga bukan akibat minum obat anti-filariasis, melainkan karena punya riwayat kesehatan yang tidak membolehkan minum obat anti-filariasis. (TRIBUN JABAR/ANT)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang