BAGHDAD, KOMPAS.com - Pemerintah Irak memperingatkan warganya akan adanya potensi kenaikan jumlah serangan yang dilakukan para gerilyawan menjelang pemilihan umum parlemen yang rencananya digelar pada Januari.
Kekerasan di Irak telah menurun tajam dalam 18 bulan terakhir, namun gerilyawan kembali menunjukkan kegigihan mereka dengan melancarkan serangan-serangan seperti pemboman dahsyat pada Agustus dan Oktober yang ditujukan pada kantor-kantor pemerintah yang menewaskan lebih dari 250 orang.
Menurut Perdana Menteri Nuri al-Maliki yang mengampanyekan program peningkatan keamanan di Irak menyatakan serangan-serangan lebih lanjut sebelum pemilihan umum merupakan kemunduran bagi negara itu. "Mulai sekarang sampai waktu pemilihan umum, kita mengantisipasi, kita meyakini bahwa musuh-musuh kita, lawan-lawan kita, akan melakukan kekerasan lebih lanjut," kata Menteri Luar Negeri Hoshiyar Zebari kepada wartawan di kantor kementeriannya yang menjadi sasaran serangan pada 19 Agustus.
"Namun kita berharap kita akan berhasil. Kita akan melaksanakan pemilihan umum yang bersih pada Januari," katanya.
Dewan kepresidenan Irak hari Rabu mengungkapkan keinginan mereka kepada para pejabat pemilihan umum agar pemungutan suara dilaksanakan pada 18 Januari, bukan 21 Januari seperti yang telah disepakati sebelumnya.
Namun Faraj al-Haidari, ketua Komisi Pemilu Tinggi Independen (IHEC), mengatakan kepada wartawan di Baghdad, tanggal pemungutan suara diubah karena ada acara keagamaan. "Saya diberi tahu mereka (presidium) bahwa 18 Januari akan lebih baik daripada 21 Januari," kata Haidari. "Keputusan ada di tangan mereka dan kami tahu dari mereka secara lisan bahwa pemilu itu akan dilaksanakan pada 18 Januari."
Haidari mengatakan, dewan kepresidenan yang terdiri dari Presiden Jalal Talabani dan dua wakil presiden telah menerima usulan IHEC bagi tanggal pelaksanaan pelaksanaan pemilu pada 21 Januari.
Pemilu awal tahun depan itu telah dibayang-bayangi oleh rangkaian kekerasan yang hingga kini masih terus terjadi, meski jumlahnya lebih kecil dibanding dengan ketika pemilu nasional pertama digelar pada 2005.
Seorang jendral senior AS dalam wawancara dengan AFP beberapa waktu lalu memperingatkan, gerilyawan mungkin akan melancarkan serangan-serangan yang lebih mengejutkan seperti pemboman dahsyat di Baghdad pada 25 Oktober, menjelang pemilihan umum Januari. Mayor Jendral John D. Johnson mengatakan bahwa meski situasi keamanan akan stabil pada pertengahan tahun depan, kekerasan bermotif politis yang bertujuan mempengaruhi bentuk pemerintah mendatang merupakan hal yang perlu dikhawatirkan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang